Logo Bloomberg Technoz

Oleh sebab itu, Airlangga mengungkapkan Filipina tak lagi hanya menjadi eksportir bijih nikel bagi Indonesia, namun bakal terintegrasi ke dalam rantai pasok lebih tinggi.

“Sementara Indonesia mendapatkan jaminan keamanan pasokan [feedstock security] untuk industri hulu baterai dan baja tahan karat kita. Hal ini sejalan dengan arahan KTT AECC ke-27 untuk memperkuat rantai pasok kritis di kawasan ASEAN,” tambah Airlangga.

Airlangga menambahkan, nilai ekspor produk olahan nikel Indonesia mencapai US$9,73 miliar pada 2025. Dia menargetkan investasi dari industri nikel di Indonesia pada 2030 mencapai US$47,36 miliar dan menyerap 180.600 tenaga kerja.

“Smelter-smelter tersebut membutuhkan pasokan bijih yang stabil dengan rasio silikon terhadap magnesium (Si:Mg) tepat yang dapat dipenuhi dari bijih nikel Filipina melalui proses blending,” kata Airlangga.

Airlangga juga mendorong pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang terintegrasi dengan rantai pasok mineral kritis, utamanya untuk memperkuat daya saing industri nikel Indonesia.

“KEK dapat menjadi lokomotif bagi investasi smelter, pengolahan bahan baku baterai, serta pusat inovasi teknologi hilirisasi yang berstandar internasional,” ungkap dia.

Adapun berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) 2026, Indonesia dan Filipina secara bersama menguasai 73,6% produksi nikel global pada 2025.

Indonesia menyumbang sekitar 66,7% atau 2,6 juta ton dan Filipina sebanyak 6,9% atau 270.000 ton. Dari sisi cadangan, Indonesia memiliki 44,5% cadangan nikel dunia atau sebesar 62 juta ton, sedangkan Filipina memiliki 3,4% atau 4,8 juta ton.

Kemenko Perekonomian mencatat sepanjang 2025 total nilai ekspor Indonesia ke Filipina mencapai US$10,22 miliar atau setara dengan 8,4% dari total nilai impor Filipina. Secara keseluruhan, Filipina merupakan mitra dagang strategis utama bagi Indonesia di kawasan Asia Tenggara, terutama untuk komoditas energi dan produk otomotif.

Sebelumnya, APNI memberikan sinyal Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr bakal meneken kesepakatan di sektor pertambangan mineral, terutama soal nikel.

Sekretaris Umum APNI Meidy Katrin Lengkey menyatakan dirinya bakal segera menggelar rapat dengan otoritas terkait untuk mempersiapkan pertemuan tersebut. Namun, dia masih belum mengungkapkan kisi-kisi kesepakatan yang rencananya diteken Indonesia dan Filipina tersebut.

“Pekan depan ketika saya kembali ke Jakarta, kami akan pergi ke Filipina bersama Presiden untuk membuat kesepakatan lain di depan dua Presiden; Presiden Indonesia dan Presiden Filipina pada 7—8 Mei; bulan depan,” kata Meidy dalam webinar Shanghai Metals Market (SMM), Selasa (28/4/2026).

“Ya, mereka akan bertanya kepada saya tentang HPM baru, apa dampak besarnya, prediksi royalti dan pendapatan pajak hingga akhir tahun ini, khususnya dari nikel,” ucap Meidy.

Adapun, Filipina merupakan salah satu sumber impor bijih nikel yang didatangkan oleh Indonesia. Di sisi lain, saat ini industri smelter nikel domestik disebut mengalami defisit bijih sekitar 100 juta ton gegara pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.

Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) sebelumnya mengungkapkan impor bijih nikel dari Filipina berpotensi menyentuh 30 juta ton pada tahun ini, atau lebih tinggi dua kali lipat dari total impor sepanjang 2025 sebanyak 15 juta ton, gegara pemangkasan produksi bijih.

Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusuma menjelaskan kapasitas produksi fasilitas pengolahan dan pemurnian atau smelter nikel di Indonesia pada tahun ini akan mencapai 2,7 juta ton kering atau dry metric ton (dmt) nikel kelas 1 dan kelas 2.

Arif menyatakan Indonesia membutuhkan tambahan sekitar 40—50 juta ton basah atau wet metric ton (wmt) bijih saprolit dan limonit pada 2026 dari besaran tahun lalu sekitar 300 juta dmt.

Dengan demikian, bijih nikel yang dibutuhkan sepanjang tahun ini berpotensi naik menjadi 340—350 juta ton.

Sementara itu, jika produksi bijih Indonesia pada 2026 dipangkas menjadi 260—270 juta ton, terdapat kekurangan pasokan dalam negeri sekitar 100 juta ton bijih.

“FINI memprediksi bahwa impor bijih nikel sebagai mekanisme penyeimbangan utama. Diperkirakan impor berpotensi meningkat hingga ~50 juta wmt; di mana ≥30 juta wmt berasal dari Filipina, sisanya dari tempat lain,” kata Arif ketika dihubungi, Kamis (8/1/2026).

(azr/ros)

No more pages