Logo Bloomberg Technoz

RI Mau Bahas Nikel dengan Filipina, Bahlil Buka Peluang B2B

Azura Yumna Ramadani Purnama
06 May 2026 11:40

Sampel inti yang menunjukkan adanya nikel./Bloomberg-Cole Burston
Sampel inti yang menunjukkan adanya nikel./Bloomberg-Cole Burston

Bloomberg Technoz, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengaku membuka potensi terjalinnya kerja sama antarbisnis atau business to business (B2B) antara perusahaan nikel Indonesia dan Filipina.

Hal tersebut merespons pernyataan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) yang memberikan sinyal Presiden Prabowo dan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr bakal meneken kesepakatan di sektor pertambangan mineral, terutama soal nikel, dalam waktu dekat.

Bahlil menjelaskan hingga saat ini tidak terdapat kerja sama government to government (G2G) yang diteken kedua negara untuk sektor nikel. Meski begitu, dia tidak menampik terdapat peluang dilakukannya kerja sama antarpengusaha terkait dengan komoditas mineral logam tersebut.


“Jadi gini, negara kita sekarang kan masuk dalam negara yang menganut mazhab hilirisasi dan industrialisasi. Nah, salah satu negara yang mempunyai cadangan nikel itu kan Filipina, tetapi dia kan jumlahnya enggak banyak sebenarnya,” kata Bahlil kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (5/5/2026).

Nah, dalam konteks kerja sama G2G itu tidak ada, tetapi kalau memang ada B2B yang saling membutuhkan dan saling menguntungkan, saya pikir opsi itu selalu ada aja ya,” tegas dia.