Logo Bloomberg Technoz

Margin INCO Dibayangi Bea Ekspor & Windfall Tax Nikel

Sabrina Mulia Rhamadanty
06 May 2026 15:20

Area pembuangan terak yang dioperasikan oleh PT Vale Indonesia di Sorowako, Sulawesi Selatan, Indonesia./Bloomberg-Dimas Ardian
Area pembuangan terak yang dioperasikan oleh PT Vale Indonesia di Sorowako, Sulawesi Selatan, Indonesia./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta - Saham emiten pertambangan nikel, PT Vale Indonesia Tbk (INCO), sempat mengalami tekanan, bertepatan dengan munculnya sentimen pasar terkait rencana pemerintah Indonesia menerapkan bea keluar produk hilirisasi nikel dan windfall tax.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham INCO kemarin sempat mencatat penurunan paling tajam, yakni hingga minus 13% ke level Rp5.371/saham.

Kemudian, saham INCO naik kembali sebesar 3% pada penutupan sesi I hari ini, Rabu (6/5/2026), ke level Rp6.175/saham. Meski begitu, angka ini belum melampaui kenaikan pada penutupan sesi kedua Senin (04/05/2026) yang berada pada level Rp 6.875.


Dalam analisis BRI Danareksa Sekuritas, anjloknya saham INCO seiring tekanan sektor nikel akibat rencana kebijakan pemerintah.

“Pemerintah akan menerapkan bea keluar ditambah windfall tax nikel dengan tujuan menambah penerimaan negara & tutup beban subsidi energi,” ungkap BRI Danareksa Sekuritas.