Logo Bloomberg Technoz

INCO mengungkapkan perseroan mendapatkan keuntungan dari membaiknya harga nikel dunia pada triwulan I-2026, dengan harga rata-rata nikel matte sebesar US$14.213 per metrik ton.

Jika dibandingkan dengan triwulan IV-2025, harga nikel matte yang dijual perseroan naik 15% dari US$12.308 per metrik ton.

“[Hal] yang perlu diperhatikan, periode 2026 menandai tahun penuh pertama penjualan nikel matte dengan tingkat pembayaran 82%, yang memberikan basis pendapatan yang lebih kuat dan visibilitas margin yang lebih baik,” ungkap INCO.

Dari sisi biaya tunai per unit penjualan nikel matte, pada awal tahun berada di sekitar US$10.382 per ton, sedikit lebih tinggi dari triwulan IV-2025 sebesar US$9.573 per ton.

Untuk bijih nikel, biaya per unit pada blok Bahodopi tercatat sekitar US$21 per ton dan Pomalaa US$13 per ton, sudah termasuk royalti dan logistik.

“Dalam waktu dekat, perseroan mengharapkan optimalisasi biaya tunai akan didorong oleh volume penjualan yang lebih tinggi dari blok Pomalaa seiring dengan peningkatan skala operasi. Peningkatan volume diharapkan dapat meningkatkan efisiensi biaya dan menghasilkan skala ekonomi yang lebih besar,” sebagaimana tertulis dalam keterangan resmi INCO.

Laba Naik

Sejalan dengan itu, INCO mencatatkan laba bersih pada kuartal I-2026 sebesar US$43,6 juta atau sekitar Rp758,2 miliar (asumsi kurs hari ini), laba bersih tersebut tercatat naik 100% jika dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar US$21,8 juta atau sekitar Rp378,9 miliar.

INCO membukukan pendapatan sebesar US$252,7 juta atau sekitar Rp4,39 triliun, naik  22,4% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar US$206,5 juta.

Sementara laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) pada triwulan I-2026 tercatat sebesar US$80,1 juta atau Rp1,39 triliun, naik 54,9% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar US$51,7 juta.

Pada periode tersebut, perseroan mengeluarkan sekitar US$139,0 juta untuk belanja modal untuk mendukung aktivitas berkelanjutan dan pengembangan proyek. Per 31 Maret 2026, kas dan setara kas INCO berada di sekitar US$220,1 juta.

Adapun, INCO mencatatkan total produksi nikel dalam bentuk matte sebanyak 72.027 metrik ton sepanjang 2025.

Jika dibandingkan dengan periode 2024 yang sebanyak 71.311 mt, realisaai produksi tahun lalu mengalami kenaikan tipis sekitar 1% secara tahunan atau year on year (yoy).

Seiring dengan itu, volume penjualan nikel matte Vale juga tercatat mengalami peningkatan tipis sebesar 0,64% yoy menjadi sebanyak 73.093 ton pada 2025 dari 72.625 ton pada 2024.

Di sisi lain, penjualan bijih saprolit Vale mencapai 2,31 juta wet metric ton (wmt) pada 2025, dengan volume bulanan tertinggi terjadi pada Oktober sebesar 516.167 wmt.

Penjualan bijih tersebut secara keseluruhan dikonbtribusikan lewat Blok Bahodopi yang mengambil porsi mencapai 2,01 juta wmt. Sementara itu, sisanya disumbang oleh Blok Pomaala hanya mencapai 298.200 wmt.

Namun, secara kuartalan, produksi pada kuartal IV-2025 tercatat sebanyak 17.052 ton, atau sekitar 12% lebih rendah dibandingkan dengan 19.391 ton pada kuartal III-2025.

Sekadar catatan, harga logam nikel dilego di US$19.272/ton pada Kamis (30/4/2026) di London Metal Exchange (LME), turun 0,92% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya.

Kontrak berjangka di LME telah naik sekitar 10% sejak perang Iran dimulai, yang mendorong lonjakan harga sulfur dan memicu kekhawatiran atas gangguan terhadap pertambangan global.

(azr/wdh)

No more pages