Logo Bloomberg Technoz

Ada Konsekuensi

Yuliot turut mengingatkan jika impor dilakukan melalui BUMN, terdapat konsekuensi yang harus dihadapi gegara impor dilakukan secara langsung tanpa melalui proses tender atau lelang.

Di sisi lain, Pertamina selaku BUMN migas juga sudah memiliki kontrak pembelian dari sejumlah sumber.

“Ini kan BUMN kan juga ini sudah ada kontrak-kontrak dengan pihak lain ya kemudian untuk pemenuhan di dalam negeri bagaimana proses pengadaan ya kemudian bagaimana pembiayaan itu kan konsekuensinya proses pengadaan,” ujar dia.

“Kalau di BUMN kan harus melalui tender terlebih dulu ya kalau ini kan skemanya adalah G2G [government to government atau antarpemerintah]. Jadi untuk ini konsekuensi itu yang saya maksudkan,” tutur Yuliot.

Yuliot juga mengklaim belum mengetahui apakah minyak mentah yang dibeli oleh Indonesia dari Rusia mendapatkan diskon harga atau sesuai dengan harga di pasaran.

“Enggak ini kan ya kita ikut harga pasar itu kalau ada diskon itu ya kita kan ya juga enggak tahu kan,” ucap Yuliot.

Sekadar informasi, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo pertama kali mengungkapkan Indonesia mendapatkan komitmen pasokan minyak mentah dari Rusia dengan volume total sebesar 150 juta barel.

Komitmen tersebut diamankan Indonesia usai Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kenegaraan ke Rusia dan bertemu langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Adik Prabowo tersebut mengungkapkan Putin memberikan komitmen kepada Prabowo agar negaranya memasok sekitar 100 juta barel minyak mentah dengan harga khusus dan dapat segera dikirimkan ke Indonesia.

Setelah itu, jika Indonesia membutuhkan tambahan pasokan, maka Rusia juga dapat memasok sekitar 50 juta barel minyak mentah ke Tanah Air.

“Dia [Prabowo] ke Moskwa ketemu Presiden Putin selama 3 jam dan dapat komitmen dari Presiden Putin 100 juta barel minyak itu akan segera dikirim ke Indonesia, 100 juta dengan harga khusus,” kata Hasim dalam agenda Economic Briefing 2026 yang diselenggarakan Garuda TV di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

“Dan apabila Indonesia perlu lagi tambahan, sudah ditambah 50 juta maka Indonesia sekarang sudah ada komitmen dari Pemerintah Rusia 150 juta barel kita bisa simpen di Indonesia untuk menghadapi masalah-masalah gejolak ekonomi,” tutur Hashim.

Pertamina pun sebelumnya memastikan siap mendukung kebijakan pemerintah dalam memastikan ketahanan energi nasional, termasuk dengan melakukan impor minyak mentah dari Rusia sesuai aturan yang berlaku.

Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengungkapkan perseroan saat ini masih berkoordinasi dan berkomunikasi dengan pemerintah dalam memastikan rencana impor minyak mentah dari Rusia.

Saat ini, kata Baron, rencana impor tersebut masih dalam tahap penjajakan, baik melalui skema G2G maupun business to business (B2B) atau antarbianis.

“Terkait dengan rencana impor minyak mentah dari Rusia, saat ini Pertamina masih terus berkoordinasi dan komunikasi dengan pemerintah,” kata Baron ketika dihubungi, Rabu (22/4/2026).

Baron menjelaskan mekanisme pengadaan komoditas energi, termasuk tender atau skema lainnya, bakal disesuaikan perseroan dengan kebijakan pemerintah dan hasil pembahasan yang berjalan.

(azr/wdh)

No more pages