Logo Bloomberg Technoz

“Fasilitas ini menandai langkah penting dalam perjalanan kami untuk menyelaraskan strategi pembiayaan dengan agenda dekarbonisasi dan pertumbuhan jangka panjang perusahaan. Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan nikel berkualitas tinggi dengan jejak karbon yang lebih rendah, sekaligus mendukung pengembangan industri hilirisasi nasional dan transisi energi global,” kata Presiden Direktur Vale Bernardus Irmanto di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (23/4/2026) malam.

Dia mengungkapkan fasilitas SLL tersebut disusun mengacu kerangka kerja pembiayaan terkait keberlanjutan atau sustainability-linked financing framework. Indikator yang digunakan mencakup penurunan intensitas emisi karbon dan peningkatan penggunaan energi terbarukan.

Dalam kesempatan itu, Chief Financial Officer (CFO) INCO Rizky Andhika Putra menyatakaan fasilitas pinjaman sindikasi tersebut bakal dievaluasi setiap tahunnya dengan parameter yang sudah ditetapkan.

Selain itu, Rizky melemparkan sinyal bahwa pendanaan sekitar US$750 juta tersebut masih belum mencukupi kebutuhan dana INCO untuk melakukan ekspansi beberapa tahun ke depan.

“Ini juga sebetulnya belum memenuhi keseluruhan kebutuhan dari rencana ekspansi kami. Ini untuk pertahun ini sudah cukup, tetapi ke depannya kami karena ekspansi yang masih cukup akan memenuhi kebutuhan lagi,” ungkap Rizky.

Adapun, INCO meneken perjanjian fasilitas pinjaman tersebut dengan DBS Bank Ltd., Mizuho Bank, Ltd., PT Bank Mizuho Indonesia dan United Overseas Bank Limited sebagai mandated lead arrangers, underwriters dan bookrunners.

Lalu, PT Bank DBS Indonesia sebagai agen, United Overseas Bank Limited sebagai koordinator tunggal, United Overseas Bank Limited sebagai koordinator keberlanjutan tunggal.

Berdasarkan data per April 2026, proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa menjadi sorotan karena nilai investasinya yang terbesar, mencapai US$4,5 miliar, melalui kolaborasi dengan Ford dan Huayou.

Hingga saat ini, progres konstruksi pabrik high pressure acid leach (HPAL) di lokasi tersebut telah mencapai 65%, sementara pembangunan sektor tambang menyentuh 72%.

Proyek tersebut diklaim menyerap lebih dari 5.000 tenaga kerja dan ditargetkan mulai berproduksi pada Agustus 2026 dengan kapasitas sebanyak 120.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun.

Pada 28 Februari 2026 Vale telah menjual bijih nikel pertama dari tambang di proyek tersebut. Perseroan menargetkan produksi 300.000 ton limonit per bulan, atau sekitar 9.677 ton per hari.

Sementara itu, proyek smelter IGP Morowali telah memasuki progres operasional. Blok Bahodopi dengan luas 22.699 hektare dilaporkan telah mulai beroperasi sejak kuartal I-2025.

Untuk sektor tambang, konstruksi fase 1 telah mencapai 100% dan kini perusahaan berfokus pada persiapan penyelesaian fase 2 yang ditargetkan rampung pada 2027. Vale mengungkapkan pada awal 2026 telah terdapat 2,2 juta ton bijih yang terjual dari proyek tersebut.

Sementara itu, progres pembangunan pabrik HPAL hasil kemitraan dengan GEM dan EcoPro berkapasitas 66.000 ton per tahun MHP telah mencapai 27% dan ditargetkan mulai beroperasi pada tahun nini. Total investasi proyek ini mencapai US$2 miliar.

Adapun, di Sulawesi Selatan, Vale bersama Huayou tengah mengembangkan proyek IGP Sorowako Limonite di Blok Sorowako seluas 70.566 hektare untuk mendukung hilirisasi nikel limonit.

Pembangunan tambang per April 2026, telah mencapai 42%, sedangkan progres pabrik HPAL berada di angka 18%.

Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi 60.000 ton MHP per tahun dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2027.

(azr/wdh)

No more pages