Tidak disebutkan berapa volume produksi minyak dari proyek EOR Jirak pada periode pemeriksaan BPK tersebut. Akan tetapi, produksi minyak di lapangan Jirak pernah ditargetkan mencapai puncak sebesar 3.200 barel per hari (bph).
Adapun, EOR Jirak merupakan proyek strategis Pertamina EP di Asset 2 Field Pendopo Sumatra Selatan untuk meningkatkan produksi minyak dengan menggunakan metode waterflood dan injeksi kimia (surfaktan) ke dalam reservoir minyak di lapangan Jirak.
Proyek ini melibatkan pembangunan fasilitas produksi dan injeksi di atas lahan 6 hektare (ha) untuk mengoptimalkan sisa minyak di lapangan yang sudah tua. Pengerjaan fasilitas dimulai pada 2019. Lima tahun kemudian dilakukan kick off untuk implementasi injeksi surfaktan lebih lanjut.
Proyek ini diharapkan mampu meningkatkan produksi secara signifikan dari struktur lapangan yang memiliki original oil in place (OOIP) besar.
Untuk diketahui, teknologi EOR merupakan metode pengurasan minyak tingkat lanjut dengan menginjeksikan zat yang berasal dari luar reservoir, seperti bahan kimia, energi mekanis, atau termal.
Pendekatan kuras minyak itu belakangan didorong pemerintah untuk mengatasi metode angkut minyak konvensional seperti infill drilling dan waterflood yang dianggap terbatas pada lapangan tua saat ini.
Apalagi, menurut perhitungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tingkat perolehan minyak lapangan migas di Indonesia saat ini susut ke level 33%. Adopsi chemical EOR skala besar diharapkan dapat mengerek tingkat perolehan minyak lewat dari 50%.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya juga mendorong peningkatan produksi siap jual atau lifting minyak lewat pendekatan chemical EOR bisa diadopsi pada skala yang lebih besar.
“Strategi kita sekarang adalah bagaimana meningkatkan lifting dengan mengoptimalkan sumur-sumur tua yang ada, [dengan] teknologi EOR,” kata Bahlil di Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2025, Selasa (28/10/2025).
Bahlil menambahkan pendekatan EOR itu diharapkan dapat mengatasi tren penurunan produksi migas alamiah atau natural decline di sejumlah sumur tua saat ini.
“Kita harus bekerja keras penurunan alamiah itu 10%—15%, kita harus pertahankan lifting, kemudian kita naikkan,” kata Bahlil.
Baru-baru ini, pemerintah menaruh perhatian pada 17 lapangan potensial untuk penerapan EOR skala besar dengan pendekatan chemical, CO2, dan steamflood.
Menurut SKK Migas, 17 lapangan itu memiilki potensi perolehan sumber daya mencapai 1,12 miliar standar barel tangki minyak (BSTB).
Sebagian besar potensi sumber daya itu berasal dari rencana pengembangan chemical EOR di Lapangan Minas, Blok Rokan dengan estimasi mencapai 514,2 juta standar barel tangki minyak (MMSTB).
(wdh)





























