Di tengah lanskap global yang sarat dengan ketidakpastian, kepercayaan investor terhadap profil kredit Indonesia tampaknya masih terjaga dengan baik dengan kuatnya permintaan pada surat utang berdenominasi yen ini.
Laporan S&P Global Ratings mengingatkan bahwa Indonesia termasuk negara yang paling rentan di kawasan jika perang Timur Tengah terjadi secara berkepanjangan.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa dasar. Sebelumnya, Fitch Ratings juga telah menurunkan outlook kredit Indonesia pada Maret, yang memicu spekulasi bahwa ruang pembiayaan eksternal bisa makin sempit.
Tapi dalam lelang Samurai Bond kali ini, investor menunjukkan sikap sebaliknya dan secara agresif menyerap surat utang Indonesia beserta risikonya.
“Dengan meningkatnya risiko geopolitik, permintaan cenderung terkonsentrasi pada tenor yang lebih pendek, namun hal itu justru membantu membangun momentum,” kata Shin Sugizaki dari Daiwa Securities Co., salah satu penjamin emisi utama, seperti dikutip Bloomberg News.
Dalam pertemuan dengan investor Jepang menjelang penerbitan obligasi, pemerintah Indonesia berupaya meyakinkan calon pembeli terkait dampak potensial dari konflik Iran, tambahnya.
Meski ada premi risiko yang harus diganjar mahal dengan kenaikan kupon yang signifikan, status peringkat investasi Baa2 dari Moody's serta BBB dari S&P Global Ratings dan Fitch Ratings sepertinya masih memberikan bantalan kepercayaan bagi investor. Setidaknya untuk gejolak yang terjadi dalam jangka pendek.
(dsp/aji)


























