Logo Bloomberg Technoz

Panas Ekstrem Asia Berpotensi Mendorong Harga Gas Melonjak

News
07 June 2026 16:00

LNG China. (Bloomberg)
LNG China. (Bloomberg)

Stephen Stapczynski, Mary Hui dan Priscila Azevedo Rocha - Bloomberg News

Bloomberg, Ketika pasar gas global bergulat dengan kondisi Selat Hormuz yang praktis tertutup selama hampir tiga bulan, para pedagang kini terfokus pada dua faktor yang sulit diprediksi: China dan cuaca.

Prakiraan musim panas menunjukkan suhu yang lebih tinggi dari normal di seluruh Asia, sementara pola cuaca El Niño dapat membuat kondisi menjadi lebih panas lagi. Hal itu akan meningkatkan penggunaan pendingin udara dan membebani jaringan listrik ketika harga energi sudah berada pada level tinggi. Risiko utamanya adalah jika gelombang panas memicu permintaan yang lebih kuat di China, pembeli gas alam cair (LNG) terbesar di dunia.


Konflik di Timur Tengah telah menghambat sekitar seperlima pasokan LNG global, tetapi sejauh ini belum memicu lonjakan harga ekstrem seperti yang terjadi pada krisis energi sebelumnya. Hal itu terutama disebabkan oleh lemahnya impor China pada Maret dan April. Namun, tanda-tanda pemulihan pembelian negara tersebut meningkatkan prospek persaingan global yang lebih ketat pada saat Eropa perlu mengisi kembali persediaan gas menjelang musim dingin.

“Dampak penuh dari penutupan Selat Hormuz belum terasa karena kita masih berada pada periode transisi dengan permintaan yang relatif rendah,” kata Saul Kavonic, analis energi di MST Marquee. “Harga LNG dapat naik hingga 50% lagi sampai Agustus jika selat tersebut tetap sebagian besar tertutup."

US LNG to Asia Via Cape of Good Hope. (Sumber: Spark Commodities).