Logo Bloomberg Technoz

Persediaan timah di gudang LME pada akhir Desember 2025 berada di posisi 5.420 ton, naik 14% dari awal tahun 2025 di posisi 4.760 ton.

Berdasarkan CRU Tin Monitor, pada 2025 produksi logam timah global diperkirakan sebesar 371.369 ton. Sedangkan konsumsi logam timah global diperkirakan sebesar 389.404 ton.

“Perseroan fokus ke penguatan tata kelola pertimahan, optimalisasi kinerja operasi, pemasaran, dan keuangan,“ ujar kata Restu.

TINS membukukan pendapatan sebesar Rp11,55 triliun, meningkat 6,41% dari tahun sebelumnya sebesar Rp10,86 triliun.

Lubang tambang timah di operasi PT Timah di Mentok, Pulau Bangka./Bloomberg-Dimas Ardian

Beban pokok pendapatan perseroan naik 8,41% secara tahunan menjadi Rp8,79 triliun pada 2025. Perseroan membukukan laba usaha sebesar Rp1,91 triliun dengan pencapaian EBITDA sebesar Rp2,76 triliun.

Sementara itu, nilai aset TINS naik 6,75% menjadi Rp13,64 triliun pada 2025 dari sebelumnya Rp12,78 triliun pada 2024. Kenaikan aset itu didorong oleh tebalnya piutang usaha yang belum jatuh tempo pada akhir 2025.

Sedangkan posisi liabilitas perseroan sebesar Rp5,23 triliun, naik 0,80% dibandingkan posisi akhir tahun 2024 sebesar Rp5,19 triliun.

Posisi ekuitas bergerak ke level Rp8,41 triliun  pada 2025, mengalami kenaikan 10,83% dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp7,59 triliun.

TINS mencatatkan quick ratio keuangan sebesar 60,6%, current ratio sebesar 242,8%, debt to asset ratio sebesar 11,5% dan debt to equity ratio sebesar 18,7%.

Operasi Susut

Perseroan mencatat produksi bijih timah sebesar 18.635 ton Sn pada 2025, turun 4% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 19.437 ton Sn.

Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya masih masifnya penambangan ilegal terutama pada lokasi pesisir oleh Ponton Isap Produksi (PIP) maupun tambang darat dan adanya penolakan masyarakat pada lokasi penambangan baru.

Seiring dengan menurunnya produksi bijih timah, produksi logam timah juga mengalami penurunan sebesar 6% menjadi 17.815 metrik ton dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 18.915 metrik ton.

Adapun penjualan logam timah turun 5% menjadi 16.634 metrik ton dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 17.507 metrik ton.

Harga jual rata-rata logam timah sebesar US$35.240 per metrik ton, naik 13% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$31.181 per metrik ton.

Pada 2025, TINS mencatatkan penjualan logam timah domestik sebesar 5% dan ekspor logam timah sebesar 95% dengan 6 besar negara tujuan ekspor meliputi Singapura 23%; Korea Selatan 21%; Jepang 17%; Belanda 7%; Italia 3%; dan China 3%.

Kontribusi penjualan ekspor perseroan mencapai sekitar 24% dari total ekspor timah Indonesia sebesar 53.050 metrik ton, serta menyumbang sekitar 3% dari total ekspor timah global sebesar 371.369 metrik ton.

(naw)

No more pages