Berikut 10 saham dengan angka net buy tertinggi yang paling jadi incaran oleh investor asing sepanjang perdagangan kemarin:
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp112,12 miliar
- PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) Rp93,25 miliar
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp77,38 miliar
- PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) Rp44,19 miliar
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) Rp42,57 miliar
- PT United Tractors Tbk (UNTR) Rp34,03 miliar
- PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) Rp33,87 miliar
- PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) Rp25,81 miliar
- PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Rp21,36 miliar
- PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Rp18,08 miliar
BI Tahan Suku Bunga Acuan
Bank Indonesia (BI) mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode April 2026. Hasilnya, BI Rate tidak ke mana-mana.
“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21–22 April 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,5%,” papar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers usai RDG.
Adapun hasil rapat ini sesuai dengan estimasi pasar. Konsensus yang dihimpun Bloomberg menghasilkan median proyeksi BI Rate bertahan tetap di level 4,75% pada pertemuan April.
Gubernur Perry menjelaskan, keputusan ini konsisten dengan upaya meningkatkan efektivitas strategi moneter dalam memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi perekonomian global akibat perang di Timur Tengah.
Ke depan, Bank Indonesia siap menempuh penguatan lebih lanjut kebijakan moneter yang diperlukan untuk tetap mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi 2026 dan 2027 dalam sasaran 2,5 plus minus 1%
“Berbagai kebijakan pemerintah dan BI diperkuat di tengah menurunnya prospek perekonomian global. Berbagai respons kebijakan diperkuat untuk memitigasi dampak perlambatan ekonomi dunia dan mendorong sumber-sumber pertumbuhan ekonomi dari permintaan domestik,” kata Perry Warjiyo.
Panin Sekuritas dalam risetnya menyebut, ini merupakan penahanan BI Rate ketujuh kalinya sejak September 2025, menandakan sikap BI yang lebih pro–stability. Keputusan BI juga sejalan dengan penilaian, mengingat kondisi nilai tukar rupiah yang masih tertekan imbas sentimen risk–off terhadap negara berkembang, inflasi umum yang masih dekat dengan target atas BI, serta tren surplus dagang yang kian menipis.
“Kendati demikian, BI tetap mempertahankan sikap pro-growth nya, terlihat dari komitmen untuk menjaga pertumbuhan jumlah uang beredar (uang primer/M0) lebih dari 10% YoY dan penguatan kebijakan makroprudensial,” terang Panin Sekuritas.
Ke depan, Panin Sekuritas memprediksi BI Rate tetap akan ditahan sepanjang 2026, seiring dengan ruang penurunan kebijakan moneter global semakin kecil, termasuk kemungkinan semakin tertundanya penurunan suku bunga The Fed, serta inflasi umum yang akan terdorong menuju level yang relatif tinggi imbas multiplier effect dari kenaikan harga BBM.
(fad/aji)


























