Di saat yang sama, Iran tetap menutup Selat Hormuz bagi hampir seluruh lalu lintas internasional lainnya. Bahkan, kapal cepat Iran dilaporkan melepaskan tembakan ke arah kapal-kapal komersial di selat tersebut pada hari Rabu.
Keputusan Trump untuk memperpanjang gencatan senjata dinilai sebagai langkah mundur dari ancamannya untuk melanjutkan pemboman terhadap Iran jika kesepakatan tidak tercapai hingga tenggat waktu Rabu kemarin. Perang tersebut sejauh ini telah menewaskan ribuan orang dan memicu lonjakan harga energi dunia.
Harga minyak mentah dunia naik untuk sesi ketiga berturut-turut, dengan Brent melampaui US$101 per barel. Pasar fisik terus menunjukkan sinyal kelangkaan pasokan jangka pendek, di mana harga Dated Brent melonjak di atas US$107 per barel.
Kenaikan ini berdampak pada harga bensin di SPBU Amerika Serikat yang mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir, meningkatkan tekanan politik bagi Trump untuk segera menyelesaikan konflik ini. Sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia dikirim melalui Selat Hormuz sebelum perang pecah, termasuk komoditas penting untuk pupuk dan produk pertanian lainnya.
Trump menyalahkan perpecahan di kalangan pemimpin Iran sebagai alasan perlunya memperpanjang gencatan senjata, yang menurut laporan Fox News mungkin tidak akan berlangsung lebih dari lima hari. Leavitt membantah laporan tersebut.
“Saya tahu ada laporan anonim yang menyebutkan tenggat waktu tiga hingga lima hari,” ujarnya. “Itu tidak benar. Presiden belum menetapkan tenggat waktu. Pada akhirnya, dia yang akan menentukan jadwalnya.”
Selain isu Selat Hormuz, kedua pihak masih berbeda jauh dalam sejumlah isu jangka panjang, seperti program nuklir dan rudal Iran, serta dukungannya terhadap kelompok militan di Timur Tengah.
Trump pada Rabu mengatakan Iran telah memenuhi seruannya untuk tidak mengeksekusi delapan perempuan demonstran. Dalam unggahan di media sosial, ia menyebut empat di antaranya akan segera dibebaskan dan empat lainnya dijatuhi hukuman satu bulan penjara. “Saya sangat menghargai bahwa Iran, dan para pemimpinnya, menghormati permintaan saya,” tulis Trump.
Iran menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz—yang praktis tertutup sejak awal perang pada akhir Februari—atau ikut serta dalam pembicaraan damai selama blokade angkatan laut AS masih berlangsung. Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran terus memantau situasi dan militernya siap melakukan “pertahanan komprehensif dan tegas” terhadap ancaman lanjutan, mengutip pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei.
Pada Rabu pagi, utusan Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa negaranya telah “menerima beberapa sinyal” bahwa AS siap mencabut blokade, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
“Begitu mereka menghentikan blokade ini, saya pikir putaran berikutnya dari perundingan akan berlangsung di Islamabad,” ujar Amir-Saeid Iravani, seperti dikutip kantor berita semi-resmi Tasnim.
Selat Hormuz menjadi lokasi sejumlah insiden serangan terhadap kapal pada Rabu.
UK Maritime Trade Operations, lembaga penghubung angkatan laut dengan industri pelayaran, melaporkan melalui platform X bahwa sebuah kapal kargo dan kapal kontainer terkena tembakan Iran di jalur tersebut.
Televisi pemerintah Iran kemudian melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menyita dua kapal—MSC Francesca dan Epaminondas—di Selat Hormuz dan membawanya ke darat untuk pemeriksaan. The Wall Street Journal melaporkan bahwa kedua kapal tersebut, serta satu kapal lain bernama Euphoria, sempat menjadi sasaran serangan.
Angkatan Laut AS pada Minggu juga menembaki dan menyita sebuah kapal kargo Iran di Teluk Oman.
Setidaknya dua kapal tanker Iran yang penuh muatan berhasil keluar dari Teluk Persia dan melewati blokade AS pekan ini, menunjukkan keterbatasan upaya Washington dalam menekan ekspor minyak Teheran.
Data dari perusahaan intelijen Vortexa menunjukkan setidaknya 34 kapal tanker dan pengangkut gas yang terkait Iran telah melewati selat dan garis blokade AS.
Sementara itu, Israel dan Lebanon dijadwalkan melanjutkan pembicaraan langsung pada Kamis di Washington. Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee diperkirakan akan menghadiri pertemuan tersebut, menurut pejabat Departemen Luar Negeri.
Israel dan Hizbullah memulai konflik paralel pada awal Maret. Trump mengumumkan gencatan senjata pekan lalu yang berlaku hingga 26 April. Meski Hizbullah tidak secara resmi menjadi bagian dari kesepakatan tersebut, gencatan senjata secara umum masih bertahan, meski kedua pihak saling menuduh melakukan serangan baru. Trump mendorong tercapainya kesepakatan yang lebih luas untuk mengakhiri konflik tersebut.
AS dan Iran terus terlibat dalam ketegangan sejak mengumumkan gencatan senjata dua pekan pada 7 April.
Kebingungan sempat terjadi pekan lalu ketika Araghchi menyatakan Selat Hormuz telah dibuka kembali untuk semua kapal komersial. Iran kemudian menarik pernyataan itu setelah jelas bahwa blokade AS tetap diberlakukan.
Sejumlah pejabat Iran, termasuk dari kalangan militer dan pimpinan IRGC, menilai kelanjutan blokade AS sebagai bukti bahwa Trump tidak dapat dipercaya, menurut pejabat AS dan Iran.
Pemimpin IRGC Ahmad Vahidi termasuk di antara pihak yang mendorong sikap keras dalam perundingan, menurut sumber yang mengetahui dinamika tersebut.
Inggris dan Prancis pekan ini menggelar pertemuan para perencana militer dari lebih dari 30 negara untuk membahas cara menjaga Selat Hormuz tetap terbuka setelah perang Iran berakhir. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Prancis Emmanuel Macron memimpin upaya tersebut, sembari menolak permintaan Trump agar negara sekutu membuka selat itu dengan kekuatan militer.
Putaran sebelumnya pembicaraan antara AS dan Iran di Islamabad pada pertengahan April berakhir tanpa hasil setelah pejabat AS menyatakan Teheran tidak bersedia menerima pembatasan terhadap program nuklirnya. Iran, yang diwakili Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dalam pertemuan itu, menyatakan AS mengajukan sejumlah tuntutan yang tidak dapat dipenuhi.
(bbn)

























