Kantor berita semi-pemerintah Iran, Tasnim, melaporkan bahwa Teheran tidak akan membuka kembali selat tersebut selama Angkatan Laut AS terus mencegat kapal-kapal mereka. Iran bahkan mengancam akan memecah blokade dengan kekuatan militer jika diperlukan. Pada hari Selasa, AS mengonfirmasi telah mencegat sebuah kapal tanker minyak yang terkena sanksi, setelah sebelumnya menyita sebuah kapal kargo pada akhir pekan lalu.
Harga Brent sempat menembus level US$100 per barel pada perdagangan Selasa setelah Associated Press melaporkan bahwa Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan perjalanannya ke Islamabad untuk perundingan damai. Hal ini terjadi setelah media Iran melaporkan bahwa Teheran menolak hadir dalam pertemuan tersebut. Namun, harga kembali melandai setelah Trump memberikan komentar terkait perpanjangan gencatan senjata.
Negosiasi tersebut tadinya dipandang sebagai kesempatan terakhir untuk de-eskalasi sebelum gencatan senjata dua minggu berakhir. Namun, kedua belah pihak masih memiliki daftar panjang masalah yang belum terselesaikan, termasuk kemampuan nuklir Iran dan invasi Israel ke Lebanon.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan dalam unggahan di platform X bahwa pihaknya akan terus menerapkan "tekanan maksimum" untuk "melumpuhkan kemampuan Teheran dalam menghasilkan, memindahkan, dan memulangkan dana."
"Fasilitas penyimpanan di Pulau Kharg akan penuh dan sumur-sumur minyak Iran yang rapuh akan ditutup," tulis Bessent, merujuk pada lokasi utama ekspor minyak mentah Iran.
Selama ini, Iran mengekspor sebagian besar minyaknya ke kilang-kilang independen kecil di China yang tidak terlalu terpapar pada pasar keuangan internasional. Sejauh ini, Beijing tetap menyatakan penolakannya terhadap sanksi sepihak yang dijatuhkan oleh AS.
Harga:
- WTI untuk pengiriman Juni naik 0,8% menjadi US$90,35 per barel pada pukul 06.57 di Singapura.
- Brent untuk pengiriman Juni ditutup naik 3,1% menjadi US$98,48 per barel pada Selasa.
(bbn)





























