Selisih harga antara timur dan barat menunjukkan bahwa China, meski kini menjadi pelanggan gas terbesar Rusia, ternyata kurang menguntungkan dibandingkan hubungan dagang sebelumnya dengan Eropa.
Sebagian besar hubungan perdagangan terputus setelah Moskwa menyerang Ukraina pada awal 2022, dan hanya segelintir negara Eropa seperti Hongaria, Slovakia, Serbia, dan Turki yang masih menerima pasokan gas melalui pipa dari Rusia. Pemerintah Rusia dan perusahaan negara Gazprom PJSC secara tradisional memasukkan Turki ke dalam wilayah Eropa.
Tahun lalu, Rusia menjual gas alamnya ke China dengan harga rata-rata US$248,7 per 1.000 meter kubik, juga lebih dari 38% lebih rendah daripada harga rata-rata untuk Eropa, menurut data pemerintah.
Harga untuk China "secara objektif lebih rendah" daripada untuk Eropa karena ladang gas yang memasok Asia lebih dekat ke pelanggan, kata CEO Gazprom Alexey Miller tahun lalu, menurut Interfax.
Volume ke China
Rusia telah meningkatkan pasokan ke China selama beberapa tahun melalui jalur gas Power of Siberia. Pipa tersebut mencapai kapasitas desainnya sebesar 38 miliar meter kubik pada 2025, dan pengiriman gas aktual melalui pipa tersebut sedikit lebih tinggi, menurut Gazprom.
Pada 2029, aliran gas tahunan Rusia ke arah timur diperkirakan akan meningkat menjadi 52,5 miliar meter kubik, kata sumber tersebut. Peningkatan ini kemungkinan akan tercapai berkat kesepakatan tambahan antara Gazprom dan China National Petroleum Corp, termasuk perluasan pipa yang ada dan rute baru ke Timur Jauh.
Sebaliknya, Rusia memperkirakan pengiriman gas melalui pipa ke Eropa akan menyusut menjadi 32 miliar meter kubik per tahun pada 2028 hingga 2029, dibandingkan dengan 36 miliar meter kubik tahun ini dan 38 miliar meter kubik tahun depan, menurut sumber yang mengetahui perkiraan tersebut. Sebelum invasi, Gazprom memasok sebanyak 200 miliar meter kubik per tahun ke puluhan kliennya di barat.
(bbn)





























