Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai reli tersebut mencerminkan sebagian besar sentimen positif sudah mulai terakomodasi dalam harga saham.
“Kenaikan sekitar 40% itu menunjukkan sebagian besar sentimen positif sudah tercermin ke dalam harga. Jadi sudah partially priced in, tapi belum sepenuhnya,” kata Reydi kepada Bloomberg Technoz, Selasa (21/4/2026)
Meski demikian, selama harga CPO global masih bertahan di level tinggi, potensi kenaikan saham sektor ini dinilai masih terbuka, meskipun tidak sebesar fase awal reli.
Kondisi tersebut membuat pergerakan saham ke depan lebih rentan terhadap aksi ambil untung oleh investor.
Dari sisi fundamental, katalis utama sektor ini masih berasal dari harga CPO global, implementasi program biodiesel seperti B50, serta permintaan ekspor dari negara-negara seperti India dan pasar berkembang lainnya.
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Fath Aliansyah Budiman menilai faktor-faktor tersebut masih akan menopang prospek sektor dalam jangka menengah.
“Upside masih sangat mungkin terjadi dengan melihat salah satu katalis implementasi B50 yang akan mendorong permintaan, namun perlu mencermati volatilitas dalam jangka pendek,” ujarnya.
Selain itu, faktor cuaca ekstrem seperti El Nino juga menjadi variabel penting yang dapat memengaruhi produksi tandan buah segar (TBS), yang pada akhirnya berdampak pada pasokan CPO global.
Di sisi lain, analis Trimegah Sekuritas Kharel Devin Fielim melihat prospek sektor CPO masih ditopang oleh ketidakseimbangan struktural antara permintaan dan pasokan.
Permintaan global meningkat seiring kebutuhan keamanan energi dan ekspansi biofuel, sementara pasokan cenderung terbatas akibat faktor tanaman yang menua, lambatnya peremajaan, serta minimnya ekspansi lahan baru.
“Demand dari CPO itu sangat meningkat, sementara dari sisi supply tidak banyak bertumbuh,” ujarnya.
Meski demikian, sejumlah risiko tetap membayangi sektor ini, antara lain potensi peningkatan pasokan global, koreksi harga komoditas, serta ketidakpastian kebijakan dari regulator.
Faktor cuaca ekstrem juga berpotensi menambah volatilitas dalam jangka pendek.
Dari sisi valuasi, saham-saham CPO dinilai sudah tidak lagi murah setelah reli signifikan, namun juga belum tergolong overvalued secara ekstrem.
Kondisi ini membuat pendekatan investasi bergeser dari akumulasi agresif menjadi lebih selektif dan taktikal.
Senada, Kharel menyebut sebagian saham CPO masih diperdagangkan pada kisaran rasio price-to-earnings (P/E) sekitar 8–9 kali, yang dinilai masih relatif menarik dibandingkan prospek jangka panjang sektor ini.
Dengan kombinasi katalis positif dan risiko yang ada, prospek saham CPO ke depan dinilai masih bergantung pada pergerakan harga komoditas global serta keberlanjutan permintaan biofuel.
Investor pun disarankan untuk lebih selektif dalam memilih emiten, seiring dengan terbatasnya ruang kenaikan setelah reli signifikan sejak awal tahun.
(fik/naw)




























