Di dalam zona tersebut, Hotel Serena — tempat pejabat Iran dan AS menghabiskan waktu berjam-jam dalam negosiasi tertutup — telah ditutup untuk umum. Hotel Marriott dan Movenpick juga menghentikan penerimaan reservasi untuk beberapa hari ke depan.
Kantor dan sekolah di dalam zona tersebut dianjurkan untuk bekerja dari rumah, sementara transportasi umum di seluruh kota dihentikan.
Pada Minggu malam, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa sebuah delegasi akan melakukan perjalanan ke Pakistan pada Senin.
Delegasi tersebut akan dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance dan mencakup utusan Trump, Steve Witkoff, serta menantunya Jared Kushner.
Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi bertemu dengan pejabat kedutaan AS di Islamabad pada Senin untuk membahas pengaturan keamanan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan kepada wartawan pada Senin bahwa Teheran belum berencana menghadiri perundingan tersebut, meskipun keputusan final belum diambil.
“Ada berbagai indikasi bahwa tidak ada keseriusan dari pihak AS dalam memajukan diplomasi,” ujarnya.
Perdana Menteri Shehbaz Sharif berbicara melalui telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian selama 45 menit pada Minggu.
Sharif menyatakan bahwa Pakistan akan tetap “sepenuhnya berkomitmen untuk memajukan perdamaian dan keamanan regional,” dalam pernyataan resmi dari kantornya.
Putaran pertama perundingan berakhir dengan konferensi pers singkat yang dipimpin oleh Vance, yang mengumumkan bahwa kedua pihak gagal mencapai kesepakatan.
Sejak saat itu, sinyal diplomatik tetap tidak konsisten, dengan kedua pihak saling melontarkan kritik di media sosial.
Gencatan senjata selama dua minggu dijadwalkan berakhir pada Selasa.
Pakistan terus memainkan peran penting — dengan kepala angkatan darat yang berpengaruh, Asim Munir, melakukan perjalanan ke Teheran sebagai bagian dari upaya mediasi.
Selama beberapa minggu terakhir, negara bersenjata nuklir tersebut memanfaatkan hubungan dekatnya dengan Iran — yang berbatasan langsung — serta dengan AS untuk menyelesaikan konflik.
Dengan kedua pihak belum sepenuhnya sejalan mengenai syarat-syarat yang diajukan, jalur diplomasi masih terbuka — namun rapuh, dan semakin bergantung pada apakah eskalasi terbaru di laut akan menggagalkan sisa momentum negosiasi.
(bbn)



























