Logo Bloomberg Technoz

Krisis Hormuz Picu Kekhawatiran Baru atas Keamanan Selat Malaka

News
17 April 2026 11:10

Arus lalu lintas kapal di Selat Hormuz. (Bloomberg)
Arus lalu lintas kapal di Selat Hormuz. (Bloomberg)

Philip J. Heijmans dan Chandra Asmara - Bloomberg News

Bloomberg, Blokade yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Iran di Selat Hormuz kini membangkitkan kembali kecemasan atas nasib jalur pelayaran paling krusial di Asia.

Selat Malaka, yang membelah wilayah Indonesia, Malaysia, dan Singapura, menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik melalui saluran yang hanya selebar 2,7 kilometer di titik tersempitnya, sepuluh kali lebih sempit dibandingkan Hormuz. Jalur ini mengangkut sekitar 40% perdagangan global, termasuk sebagian besar aliran minyak dari Timur Tengah menuju kekuatan ekonomi Asia seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.


Dipatroli oleh Armada Ketujuh Angkatan Laut AS, selat ini telah lama diidentifikasi oleh para pemimpin China sebagai titik lemah dalam skenario perang, sebuah konsep yang dikenal sebagai "Dilema Malaka" yang dipopulerkan di era Presiden Hu Jintao. Situasi kini semakin rumit akibat klaim teritorial yang saling tumpang tindih, peningkatan kekuatan militer China, dan kebijakan Donald Trump yang sulit ditebak.

Saat mengumumkan blokadenya, Trump menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk mencegat setiap kapal di perairan internasional yang terbukti membayar biaya tol kepada Iran. Meski sejauh ini terlihat sedikit kapal yang berhasil lolos, perairan di sekitar Selat Malaka telah menjadi area kunci di mana "armada gelap" Iran melakukan transfer minyak antar kapal untuk menyamarkan penjualan ke negara-negara Asia, terutama China.

Peta Selat Malaka. (Sumber: Bloomberg)