Logo Bloomberg Technoz

Dia meyakini lewat sinergi antara pemerintah dengan berbagai pelaku usaha hingga Asosiasi, kini industri TPT justru berbalik arah. 

"Dengan menerapkan smart policy, kita bisa lihat dalam beberapa tahun terakhir, alhamdulillah menurut data, menurut apa yang kami terima, bahwa kita sudah bisa mulai memutar balikan narasi yang menyatakan bahwa sektor TPT di Indonesia ini merupakan sektor yang sunset, bahkan kita secara optimis harus benar-benar mengatakan it's a sunrise."

Lebih lanjut dalam paparannya, Agus menyebut kinerja industri TPT sepanjang 2025 menunjukkan tren positif. Sektor tersebut  mencatat pertumbuhan sebesar 3,55% secara tahunan (year on year), dengan nilai ekspor mencapai US$12,08 miliar dan surplus sebesar US$3,45 miliar. Angka ini naik dibandingkan tahun sebelumnya US$11,96 miliar. 

Adapun dari sisi ketenagakerjaan, industri TPT juga dibilang memiliki peran strategis. Kontribusi sektor ini terhadap penyerapan tenaga kerja nasional mencapai 19,48% dari total tenaga kerja di sektor industri. 

"Di sisi investasi sektor kita ini TPT juga mencerminkan masih terjaganya kepercayaan pihak investor untuk membawa investasinya ke Indonesia di tengah-tengah ketidakpastian geopolitik atau keputusasaan global," jelas Agus. 

Dorong Insentif Pemerintah

Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (Apsyfi) justru mendorong agar pemerintah untuk melakukan melalui kebijakan fiskal guna meredam gejolak ketidakpastian global, usai gagalnya perundingan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran di Islamabad, Pakistan. 

"Satu-satunya [cara] untuk mengurangi kenaikan biaya ini dengan intervensi PPN [pajak pertambahan nilai] misalnya, dengan pembebasan PPN. Ini bisa mengurangi cost perusahaan," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Apsyfi Farhan Aqil Syauqi kepada Bloomberg Technoz, Selasa (14/4/2026). 

Kondisi ini, kata Farhan, juga membuat industri tektil turut memantau perkembangan biaya logistik di tengah memanasnya situasi ketegangan di kawasan Timur Tengah. Meski sejauh ini ia menyatakan belum ada peralihan rute distribusi, namun risiko gangguan rantai pasok tetap menjadi perhatian.

"Sejauh ini, untuk industri hulu tekstil masih terkendala fluktuasi harga minyak, kurs, dan supply bahan baku," jelasnya. 

Ketua Umum Apsyfi Redma Gita Wirawasta menerangkan, harga paraxylene yang merupakan bahan baku utama polyester saat ini sudah berada di level US$1.300 per ton atau naik sekitar 40% dari beberapa pekan lalu.

Redma menjelaskan kenaikan harga ini belum sepenuhnya sampai ke industri hilir. Efek domino yang disebabkan kenaikan harga bahan baku tekstil, kata dia, akan berimbas secara bertahap hingga tiga pekan ke depan. 

"Dalam 1 minggu kedepan, kenaikan harga ini akan terdistribusi ke produsen kain dan 2 minggu berikutnya akan terdistribusi ke sektor pakaian jadi," ungkap Redma, Selasa (7/4/2026).

Ia juga menambahkan, sektor ritel juga akan terdapat penyesuaian harga. Dia menyebut kenaikan harga barang jadi ritel bisa sampai dengan 10%

"Diperkirakan kenaikan di sektor ritel akan berada di sekitar 10%" katanya. 

Sementara dari sisi permintaan pasar, Apsyfi melihat masih dalam level yang stabil dengan kecenderungan permintaan meningkat karena kenaikan harga bahan baku impor juga jadi lebih tinggi dari produk lokal. 

No more pages