Logo Bloomberg Technoz

Harga Baju Bisa Naik, Daya Beli Kian Terjepit

Redaksi
10 April 2026 08:04

Pedagang bahan kain tekstil menunggu pembeli di Cipadu, Kota Tangerang, Banten, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pedagang bahan kain tekstil menunggu pembeli di Cipadu, Kota Tangerang, Banten, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kenaikan harga pada paraxylene sebesar 40% menjadi US$1.300 per ton akibat perang di Timur Tengah bisa memicu inflasi melalui transmisi kenaikan harga baju. Paraxylene merupakan bahan baku utama poliester. Kenaikan harganya membuat harga pakaian berpotensi naik.

Baju atau pakaian yang masuk dalam kelompok komponen Indeks Harga Konsumen (IHK) punya karakteristik berbeda dari pangan. Jika harga pangan bersifat volatil, mudah naik dan turun, perubahan harga pakaian cenderung permanen.

Harga pakaian tak bisa diintervensi oleh kebijakan pemerintah seperti harga pangan. Umumnya, jika harga pakaian sudah naik, jarang turun dalam waktu cepat.


Sehingga kenaikan harganya lebih bersifat persisten ketimbang kenaikan harga pangan seperti makanan segar, yang bisa kembali jinak jika ada operasi pasar atau musim panen kembali datang. 

Sayangnya, kenaikan harga yang terjadi pada kelompok pakaian jarang mendapatkan sorotan. Kelompok pengeluaran untuk pakaian dalam IHK memang hanya menyumbang sekitar 0,03% hingga 0,04%. Angka ini membuat pakaian dianggap tidak signifikan dibandingkan kenaikan harga pangan atau energi.