Logo Bloomberg Technoz

Dilema RI Beli Minyak Rusia: Murah, tetapi Rawan Sanksi AS Lagi

Azura Yumna Ramadani Purnama
17 April 2026 14:00

Pekerja di ladang minyak mentah berat Russkoye, yang dioperasikan oleh Rosneft PJSC, di Rusia./Bloomberg-Andrey Rudakov
Pekerja di ladang minyak mentah berat Russkoye, yang dioperasikan oleh Rosneft PJSC, di Rusia./Bloomberg-Andrey Rudakov

Bloomberg Technoz, Jakarta – Praktisi senior di industri migas Hadi Ismoyo memandang Indonesia tengah menghadapi situasi yang dilematis gegara Amerika Serikat (AS) mau mencabut relaksasi sanksi terhadap minyak Rusia.

Indonesia padahal baru saja menjajaki pembelian sejumlah komoditas migas dari Negeri Beruang Merah.

Hadi berpendapat, secara teknis dan komersial, mengimpor minyak mentah dari Rusia bakal sangat menguntungkan Indonesia, sekaligus merugikan secara politis.


Untuk itu, Hadi menilai pemerintah perlu melakukan negosiasi yang panjang dan intensif agar dapat mengimpor komoditas migas dari Rusia dan aman dari ancaman sanksi AS.

”Pengalaman masa lalu, jika sanksi diterapkan lagi, konsekuensinya sangat keras. Maka, Presiden RI perlu kembali lagi mengadakan pembicaraan dengan Presiden Trump untuk melakukan pembicaraan khusus, mana yang boleh dengan Rusia dan mana yang tidak boleh,” kata Hadi ketika dihubungi, Jumat (17/4/2026).

Pertemuan Menteri ESDM RI, Bahlil Lahadalia bersama Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev di Moskwa, Selasa (14/4/2026). (Dok. Kementerian ESDM)