Logo Bloomberg Technoz

Sebaliknya, Indonesia dinilai belum memiliki fondasi serupa. Dalam laporannya, Hutton menjabarkan beberapa perbedaan yang mendasar terkait dengan pengembangan bioetanol dari kedua negara tersebut. 

Misalnya, biaya produksi bioetanol di Indonesia diperkirakan mencapai US$0,70—US$0,90 per liter atau sekitar dua kali lipat dibandingkan dengan Brasil yang hanya US$0,35—US$0,40 per liter yang lebih mampu bersaing secara global.

Selain itu, dari sisi pasar produksi bioetanol RI juga dinilai masih sangat terbatas dan cenderung berada pada tahap proyek percontohan, sehingga belum kompetitif untuk mendorong adopsi luas.

Sebaliknya, Brasil telah menjadi salah satu produsen dan pengekspor bioetanol terbesar di dunia, dengan volume produksi mencapai US$27—US$30 miliar liter per tahun. Bahkan, harga bioetanol di pasar domestik Brasil disebut lebih murah daripada bensin.

Di samping itu, kebijakan bioetanol di Indonesia dinilai belum konsisten dan belum mampu menciptakan pasar yang kuat, berbeda dengan Brasil yang sejak lama menerapkan kebijakan berkelanjutan seperti program Proálcool (1975) dan RenovaBio (2017).

Program Mandatori

Untuk diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan program mandatori bioetanol akan menggantikan produk Pertamax atau bensin RON 92 secara bertahap. Nantinya, mandatori tersebut akan diterapkan secara terbatas pada wilayah-wilayah tertentu.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyatakan program mandatori bioetanol tidak akan langsung menggantikan peredaran bensin RON 92, sebab kapasitas produksi bensin dengan campuran etanol di Indonesia masih lebih rendah dari konsumsi nasional.

“Namun, itu pun di dalam roadmap kita pertimbangkan segmented. Jadi area-area tertentu. Jawa Timur, Jawa Barat, DIY, gitu, Jawa Tengah dulu, gitu, DKI Jakarta dulu. Nah, ini yang kita masukkan di roadmap karena bergantung sama suplainya tadi,” kata Eniya ketika ditemui awak media di kantor Kementerian ESDM, Rabu (14/1/2026).

Eniya menambahkan, saat ini ketika PT Pertamina (Persero) sudah mulai menjual BBM dengan campuran etanol 5%, yakni Pertamax Green 95, perseroan juga perlu membangun tangki penyimpanan baru untuk menjual BBM E5 tersebut.

Adapun Asosiasi Produsen Spiritus dan Etanol Indonesia (Apsendo) mengungkapkan kapasitas produksi pabrik pengolahan tetes tebu (molase) menjadi bioetanol di Indonesia tercatat sebesar 303.000 kiloliter (kl).

Akan tetapi, pada 2024 hanya sebesar 172.000 kl yang diproduksi dan 99% di antaranya dimanfaatkan untuk kebutuhan kosmetika, farmasi, dan sektor pangan dalam negeri.

Ketua Umum Apsendo Izmirta Rachman menjelaskan, saat ini hanya terdapat 4—5 pabrik bioetanol yang aktif dari total 13 pabrik. Dia menjelaskan, rata-rata dari seluruh pabrik memiliki kapasitas produksi tertinggi hingga 100 kl per hari.

Meskipun begitu, pada 2024 hampir seluruh produksi bioetanol di pabrik dalam negeri dimanfaatkan untuk industri kosmetika, farmasi, dan pangan. Dia juga memastikan pabrik yang telah ada sudah mampu untuk memproduksi bioetanol untuk sektor energi.

“Itu semua 99% saya produksi untuk kepentingan domestik nonenergi,” kata Izmirta ketika dihubungi, Senin (27/10/2025).

Adapun, empat pabrik bioetanol tersebut terletak di Pulau Jawa dengan kapasitas produksi total mencapai sekitar 50.500 kl. Mereka a.l. PT Energi Agro Nusantara, PT Molindo Raya Industrial, PT Indo Acidatama Tbk. (SRSN), dan PT Madubaru.

Berdasarkan perhitungan Kementerian ESDM, kebutuhan bioetanol untuk menjalankan program mandatori E10 itu sekitar 1,2 juta kl.

Sementara itu, saat ini sudah terdapat BBM dengan campuran etanol 5% yang dijual oleh Pertamina dengan nama dagang Pertamax Green 95. Pertamina melaporkan konsumsi Pertamax Green 95 hingga kini tercatat sekitar 100—110 kl setiap bulannya.

(prc/wdh)

No more pages