IHSG Berpeluang Melemah Besok, Investor Tunggu Data Inflasi RI
Farid Nurhakim
01 June 2026 21:20

Bloomberg Technoz, Jakarta - Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan melemah pada perdagangan besok, Selasa (02/06/2026). Dia menyebut pihaknya memprediksi IHGS berpotensi bergerak di rentang support 6.071 sampai resistance 6.161.
“Kami perkirakan IHSG masih rawan terkoreksi dengan support 6071 dan resist 6161,” kata Didit, sapaan akrabnya, kepada Bloomberg Technoz, Senin (01/06/2026).
MNC Sekuritas juga memproyeksikan para investor bakal menanti perilisan data inflasi Indonesia dan perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah.
Tak hanya itu, nilai tukar rupiah saat ini dan penerapan atas kebijakan baru pengelolaan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA) pun menjadi atensi mereka.
“Kami perkirakan investor akan mencermati rilis data inflasi Indonesia dan juga perkembangan dari konflik di Timur Tengah. Di sisi lain, nilai tukar rupiah dan implementasi akan DHE SDA tahap awal juga menjadi perhatian investor,” tutur Didit.
Lebih jauh, MNC Sekuritas merekomendasikan sejumlah emiten yang berpotensi cuan pada perdagangan besok. Antara lain saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).
“Untuk saham dapat cermati DEWA (384-412), UNTR (24.225-25.250), dan UNVR (1.805-2.000),” beber Didit.
Senada dengan Didit, dihubungi terpisah, Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan IHSG ke depannya masih memiliki sejumlah sentimen negatif.
Mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), perang antara AS dan Israel melawan Iran, hingga rebalancing indeks Juni 2026 dari lembaga penyedia indeks global Financial Times Stock Excange (FTSE) Russell.
“Sedangkan kalau sentimen negatifnya, paling masih berkaitan dengan dinamika depresiasi nilai tukar rupiah ya, sudah 17.800 sekian [rupiah per dolar AS],” ujar Nafan saat dihubungi Bloomberg Technoz, Senin.
“Sedangkan juga, ya dinamika perang antara AS dan Iran pun juga masih menjadi sentimen utama ya bagi para pelaku pasar tentunya, serta di bulan Juni ini juga ada rebalancing FTSE Russel, ya kan?”
“Karena biasanya FTSE Russel juga menerapkan kebijakan yang serupa ya, itu ada mid dan MSCI terhadap saham-saham tertentu, ya kan? Seperti itu.”
Sementara itu, sentimen positifnya, Nafan mempoyeksikan IHSG ke depan tak mempunyai sentimen terhadap kekhawatiran pasar ihwal reklasifikasi pasar modal Indonesia ke dalam kategori frontier market oleh MSCI, seusai rebalancing indeks MSCI —yang efektif pada hari ini. Artinya, Indonesia tak diturunkan statusnya oleh MSCI atau mempertahankan posisinya sebagai bagian dari emerging market.
“Bahkan MSCI sendiri kan sudah mengafirmasi terkait dengan hal tersebut ya. Jadi, tidak ada sentimen terkait dengan penurunan atau reklasifikasi pasar modal di Indonesia menjadi frontier market ya, seperti itu,” terang Nafan.
Lalu, dia mengatakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah meningkatkan transparansi market. Misalnya dengan membuka data terkait saham dengan kepemilikan konsentrasi tinggi (high shareholding concentration/HSC) dan keterbukaan kepemilikan di atas 1%.
“Terus sejauh ini media apresiasi positif oleh MSCI misalnya kan, ya seperti itu. Ya, itu sih sebenarnya secara umum sentimen positifnya,” ujar Nafan.
Pada Jumat lalu, IHSG ditutup di posisi 6.127, melemah 0,05% dan 2,8 poin dibanding dengan penutupan hari sebelumnya. Sesudah perdagangan dibuka pada Jumat pagi, IHSG terus-menerus melesat di zona penguatan hingga menyentuh tertingginya 6.230, jelang tutup perdagangan posisinya berbalik arah.
Pergerakan menurun efek dari saham-saham berbobot besar yang jadi penyebab, seperti pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).































