Perintah blokade Selat Hormuz oleh Presiden AS Donald Trump semakin menambah tingginya risiko gangguan pasokan energi dan memperdalam kekhawatiran inflasi di pasar.
Dampak dari kekhawatiran itu juga menjalar ke pasar domestik. Di pasar Surat Utang Negara (SUN), pelaku pasar mulai memasang mode defensif dan menahan diri dari perubahan alokasi besar sambil menunggu kejelasan arah inflasi.
Pada perdagangan Senin (13/4/2026), terlihat dari kenaikan imbal hasil di hampir semua tenor, termasuk tenor acuan 10 tahun.
Kenaikan paling terasa di tenor 2 tahun hingga 4 tahun, mengalami kenaikan 1,3 basis poin (bps) hingga 4,2 bps menjadi 6,05% hingga 6,34%. Memasuki tenor menengah 5 tahun hingga 10 tahun, imbal hasil terus menanjak dan relatif stabil di atas 6,3%, bahkan mencapai 6,59% pada tenor 10 tahun.
Kenaikan yang merata pada tenor menengah ini menandakan investor mulai meningkatkan premi risiko, terutama akibat sentimen eksternal seperti lonjakan harga minyak dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Namun, di tenor panjang antara 11 hingga 16 tahun, terlihat ada koreksi terbatas dengan beberapa tenor mengalami penurunan imbal hasil. Sepertinya ada minat beli selektif dari investor jangka panjang yang mulai melihat level imbal hasil di tenor tersebut saat ini masih cukup menarik.
Pergerakan imbal hasil di pasar SUN agaknya mencerminkan kehati-hatian yang meningkat di pasar terhadap prospek jangka pendek ekonomi domestik.
Kenaikan imbal hasil yang cukup tajam terjadi di tenor pendek hingga menengah menunjukkan bahwa tekanan likuiditas dan kebutuhan pendanaan dalam waktu dekat masih jadi perhatian utama investor.
Tekanan Inflasi dan Kondisi Fiskal
Inflasi Indonesia pada Maret tercatat datang dari komponen energi sebesar 9,08%, serta kenaikan harga barang yang diatur pemerintah 6,08%. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut komponen energi memberikan andil terhadap inflasi tahunan sebesar 0,94%.
Di saat yang sama, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga melonjak 7,24% dan telah menyebabkan adanya tekanan langsung pada biaya hidup sehari-hari.
Bagi pasar obligasi tekanan inflasi ini memberi sinyal bahwa ruang penurunan suku bunga jadi kian sempit. Tak heran jika pasar SUN hari ini merespons dengan aksi jual di tengah tuntutan premi risiko yang lebih tinggi.
Di saat yang sama, kenaikan harga energi meningkatkan risiko inflasi impor sekaligus berpotensi memperburuk kondisi neraca perdagangan.
Pasar sepertinya mulai mengantisipasi adanya peningkatan kebutuhan pembiayaan pemerintah, terutama jika subsidi energi membengkak dan memperlebar defisit fiskal akibat kebijakan menahan harga bahan bakar minyak.
Kenaikan kenaikan imbal hasil di pasar obligasi ini juga membawa konsekuensi langsung terhadap biaya utang yang semakin mahal. Di saat yang sama, indeks dolar AS yang menguat 0,37% menjadi 99,01 ikut mempersempit ruang masuknya aliran dana asing secara agresif ke pasar domestik.
Meski demikian, aliran dana asing belum sepenuhnya keluar dari pasar RI. Investor global terlihat masih mencatatkan pembelian bersih harian sebesar US$10,6 juta pada pekan lalu. Namun secara umum sikap yang diambil pasar saat ini cenderung wait and see, dengan eksposur yang dijaga terbatas hingga volatilitas mereda.
Di pasar mata uang, rupiah kembali menyentuh level terendah sepanjang masa pada hari ini yaitu Rp17.135/US$ pukul 09:15 WIB. Lalu berangsung defensif dan menyisakan pelemahan 0,14% di posisi Rp17.120/US$.
Kombinasi pelemahan rupiah dan kenaikan imbal hasil SUN sesi perdagangan siang ini mengindikasikan adanya peningkatan persepsi risiko terhadap aset Indonesia dalam jangka pendek, di tengah bayang-bayang inflasi dan kondisi fiskal.
(dsp/aji)



























