"Dan itu yang membuat kenapa permintaan dolar domestik juga meningkat karena banyak aksi jual dari investor global di emerging market seperti Indonesia termasuk juga untuk kebutuhan valas yang meningkat," jelasnya.
Sebetulnya BI telah all-out, kata Myrdal dalam melakukan intervensi mulai dari pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), non-deliverable forward (NDF), hingga transaksi swap dan pasar sekunder surat utang negara (SUN).
Bahkan menurutnya BI juga memperkuat kebijakan di luar pasar-pasar tersebut lewat underlying dari transaksi permintaan valas US$50.000 serta peningkatan limit transaksi swap dan forward dari sebelumnya US$5 juta menjadi US$10 juta.
Meski demikian, ia juga mengingatkan potensi tekanan terhadap cadangan devisa apabila permintaan valas tetap tinggi.
"Jadi ya memang kondisinya dari suplai valas agak berat untuk sekarang ini walaupun harus menggunakan cadangan devisa tapi kan kita juga harus lihat sustainability cadangan devisa kedepannya seperti apa," terangnya.
Turunnya Cadangan Devisa
Sebagai catatan, cadangan devisa Indonesia menyusut US$3,7 miliar dibandingkan bulan sebelumnya menjadi US$148,2 miliar dari US$151,9 miliar pada Februari 2026.
"Perkembangan ini dipengaruhi oleh penerbitan global bond pemerintah dan penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah. Kebijakan stabilisasi tersebut sebagai respons Bank Indonesia terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat," tulis laporan BI.
Turunnya cadangan devisa bulan Maret menandai konsistensi penurunan cadangan devisa sejak Januari 2026. Untuk diketahui, pada Desember 2025, devisa RI sempat tercatat tumbuh mencapai posisi tertinggi sejak tiga bulan terakhir.
Namun, memasuki Januari 2026, cadangan devisa mencatatkan penurunan selama tiga bulan beruntun lantaran tekanan eksternal yang membuat rupiah semakin volatil.
Pada Desember 2025, cadangan devisa tercatat US$156,47 miliar, lalu turun pada Januari US$1,89 miliar menjadi US$154,58 miliar.
Kemudian pada Februari cadangan devisa juga tergerus US$2,68 miliar menjadi US$151,9 miliar. Pada Maret cadangan devisa berlanjut menyusut US$3,7 miliar dibandingkan bulan sebelumnya menjadi US$148,2 miliar.
Langkah BI
Sebelumnya, BI sendiri menegaskan bahwa di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, stabilitas menjadi prioritas utama bagi BI. Untuk itu, BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki dan juga kebijakan OM untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
“BI secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang, baik di spot market, [Domestic Non Deliverable Forward] DNDF maupun [Non-Deliverable Forward] NDF di offshore market,” kata Destry dalam keterangan resmi, Selasa (7/4/2026).
Dia menjelaskan dampak konflik Timur Tengah bersifat dua arah, yakni kenaikan harga komoditas dan posisi Indonesia sebagai negara eksportir dapat memberikan efek positif bagi perekonomian RI.
“Sehingga dapat mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi tersebut,” ujarnya.
Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolas AS kembali melemah di pasar spot, menyusul gencatan senjata di Timur Tengah yang rupanya tak langsung berdampak pada kelancaran jalur distribusi di Selat Hormuz dan kembali mengerek harga minyak.
Pada Kamis (9/4/2026), rupiah membuka perdagangan pasar spot di harga Rp17.038/US$. Melemah 0,16% dari penutupan kemarin. Tak berselang lama, rupiah kembali tergelincir 0,25% ke posisi Rp17.053/US$ dan menempati posisi kedua terlemah di kawasan.
(prc/ell)





























