Harga minyak mentah jenis Brent tercatat naik 3,36% ke US$97,93 per barel, sementara WTI naik 3,18% ke US$97,41 per barel.
Beban Fiskal
Langkah populis yang diambil pemerintah di tengah lonjakan harga minyak mentah sepertinya membuat investor semakin khawatir.
Pemerintah mengumumkan tak menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi. Selain itu tak banyak upaya efisiensi yang diupayakan, sebaliknya pemerintah masih menggelontorkan belanja secara ekspansif khususnya pada program-program prioritas.
Di sisi lain, cadangan devisa yang jadi bantalan stabilitas tercatat menurun selama tiga bulan beruntun sejak Januari 2026.
Pada Desember 2025, cadangan devisa tercatat US$156,47 miliar, lalu turun pada Januari US$1,89 miliar menjadi US$154,58 miliar.
Kemudian pada Februari cadangan devisa juga tergerus US$2,68 miliar menjadi US$151,9 miliar. Pada Maret cadangan devisa berlanjut menyusut US$3,7 miliar dibandingkan bulan sebelumnya menjadi US$148,2 miliar.
Penurunan cadangan devisa pada Maret terlihat semakin dalam dan semakin terakselerasi karena tekanan eksternal yang cenderung persisten. Pada Maret, setelah perang pecah di Timur Tengah rupiah terus bergejolak hingga Rp16.995/US$ hampir menembus batas psikologisnya di level Rp17.000/US$.
Di sisi lain, pasar juga tengah bersiap menghadapi potensi volatilitas tambahan. Bulan depan, MSCI dijadwalkan akan meninjau ulang status klasifikasi pasar saham Indonesia.
Hal ini akan menjadi faktor tambahan yang berpotensi memicu sensitivitas arus modal asing dalam jangka pendek.
(dsp/aji)





























