Kenaikan harga minyak ikut melemahkan sebagian besar mata uang kawasan Asia. Baht Thailand memipin pelemahan, disusul won Korea Selatan, ringgit Malaysia, yen Jepang, dolar Singapura, dolar Taiwan, yuan China, dan yuan offshore.
Dari dalam negeri, belum banyak katalis yang bisa menopang laju rupiah hari ini. Kinerja ekspor, meski mencatatkan surplus lebih tinggi pada Februari US$1,28 miliar berada di bawah konsensus pasar, US$1,58 miliar.
Pertumbuhan ekspor juga tercatat sedikit melambat 1,01% secara tahunan, disebabkan oleh angka ekspor batu bara yang terkontraksi 8,31% secara bulanan dan 15,65% secara tahunan menjadi US$2,25 miliar.
Pelemahan kinerja ekspor ini jadi sinyal awal bahwa bantalan eksternal Indonesia mulai menipis di tengah tekanan global yang belum sepenuhnya mereda.
Selama ini, surplus perdagangan jadi salah satu penopang utama stabilitas rupiah, terutama saat arus modal asing cenderung volatil.
Di saat yang sama, kembali naiknya harga minyak makin memperbesar risiko defisit neraca transaksi berjalan. Lonjakan biaya energi akibat aktivitas importasi minyak semakin berpotensi menekan ruang fiskal lewat beban subsidi energi.
Dalam kondisi seperti ini, intervensi otoritas moneter di pasar valas maupun obligasi dapat meredam gejolak nilai tukar meski mungkin kekuatannya akan sangat terbatas.
Akan tetapi strategi intervensi ini bukan tanpa konsekuensi. Upaya stabilisasi volatilitas rupiah oleh Bank Indonesia yang terjadi selama dua bulan ke belakang telah tercermin dari penurunan angka cadangan devisa.
Cadangan devisa yang tercatat menurun selama tiga beruntun. Sebagai catatan, pada Desember 2025, cadangan devisa tercatat US$156,47 miliar, lalu turun pada Januari US$1,89 miliar menjadi US$154,58 miliar.
Kemudian pada Februari cadangan devisa juga tergerus US$2,68 miliar menjadi US$151,9 miliar. Pada Maret cadangan devisa berlanjut menyusut US$3,7 miliar dibandingkan bulan sebelumnya menjadi US$148,2 miliar.
Penurunan cadangan devisa pada Maret terlihat semakin dalam dan semakin terakselerasi karena tekanan eksternal yang cenderung persisten. Pada Maret, setelah perang pecah di Timur Tengah rupiah terus bergejolak hingga Rp16.995/US$ hampir menembus batas psikologisnya di level Rp17.000/US$.
(dsp/aji)





























