Logo Bloomberg Technoz

APJATEL Singgung Harga Material Fiber Optik Naik Efek Timteng

Merinda Faradianti
09 April 2026 11:25

Kabel optik internet. (Bloomberg)
Kabel optik internet. (Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) mengaku bahwa dinamika geopolitik global, khususnya penutupan Selat Hormuz akibat konflik di kawasan Timur Tengah, mulai berdampak terhadap industri telekomunikasi di Indonesia.

Salah satu efek yang paling terasa adalah kenaikan harga bahan material jaringan, termasuk fiber optik. Ketua Umum APJATEL Jerry Mangasas Siregar mengatakan bahwa gangguan distribusi global turut memicu kenaikan harga bahan baku serta kelangkaan pasokan di dalam negeri.

“Saat ini ada efek, kurang lebih saya sampaikan harga material naik antara 15% hingga 17% secara nasional. Baik karena kelangkaan bahan baku fiber optik maupun kenaikan harga ADP (Adapter/Box Adaptor) serta aksesoris lainnya,” kata Jerry di Jakarta (9/4/2026).

Menurutnya, Selat Hormuz merupakan jalur strategis distribusi energi dan bahan baku industri dunia. Ketika jalur tersebut terganggu, rantai pasok global ikut terdampak, termasuk untuk komponen penting dalam pembangunan infrastruktur jaringan telekomunikasi.

APJATEL kemudian menyoroti potensi tekanan lanjutan terhadap pelaku industri, terutama dalam menjaga keberlanjutan proyek pembangunan jaringan di tengah kenaikan biaya yang tidak terduga.

“Kami berharap APJATEL mampu mendorong, dapat lebih memperkuat selain konsolidasi market itu sendiri, yang mungkin akan terpengaruh dalam kejadian di Iran,” lanjutnya.

Jerry menambahkan, kolaborasi antar pelaku industri menjadi kunci untuk menghadapi tantangan ini, termasuk dalam menjaga efisiensi operasional serta stabilitas layanan kepada masyarakat.

APJATEL, lanjut Jerry, mendorong adanya langkah strategis dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun pelaku industri, guna memastikan pasokan material tetap terjaga dan proyek pembangunan jaringan tidak mengalami hambatan signifikan.

Sebagaimana diketahui, Iran telah secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi pintu keluar hampir 20% dari total pasokan minyak dunia, dan mengancam akan menembak setiap kapal yang mencoba melewatinya.

Ancaman tersebut langsung mengguncang pasar global, khususnya harga minyak mentah, ketika pedagang dan investor bergegas merespons lonjakan risiko geopolitik dan potensi gangguan pasokan energi. Selat ini tidak hanya krusial bagi ekspor minyak mentah, tetapi juga menjadi titik utama bagi pengiriman gas alam cair dan produk energi lainnya.