Dilema Pedagang Tahu-Tempe Kala Harga Kedelai dan Plastik Naik
Andrean Kristianto
08 April 2026 19:21
Bloomberg Technoz, Jakarta - Konflik di Timur Tengah menyebabkan harga kedelai mengalami kenaikan. Kondisi tersebut membuat perajin tahu di Duren Sawit, Jakarta Selatan, mencari cara agar tetap berproduksi di tengah lonjakan harga kedelai impor.
Wahyu, perajin tahu di Duren Sawit, menyatakan bahwa ia menyiasati kondisi ini dengan memperkecil ukuran produknya agar harga jual tidak naik. Langkah tersebut dilakukan demi menjaga daya beli konsumen.
Baca Juga
"Belum naikin harga, saya jual di pasaran masih tetap, paling dikecilin ukurannya. Soalnya kalau saya aja yang naikin harga yang lain enggak, pembeli nanti pindah ke lain. Dikecilin enggak banyak sih paling 1 cm doang. Soalnya harga belanja kedelai sudah naik, tapi kenaikan bukan dari kedelai doang, yang paling berasa itu plastik sebenarnya. Plastik itu bukan naik harga itu mah tapi ganti," kata pria berusia 38 tahun tersebut saat berbincang dengan Bloomberg Technoz, Rabu (8/4/2026).
Kenaikan harga kedelai telah dirasakan pengelola rumah produksi tahu di Duren Sawit sejak sebelum Lebaran. Dampak tersebut mulai terasa ketika situasi di Selat Hormuz memanas.
Deni, pengelola rumah produksi tahu di wilayah tersebut, mengungkapkan bahwa harga kedelai terus mengalami peningkatan. Sebelumnya harga berada di kisaran Rp10.000 per kilogram, kemudian naik menjadi Rp11.200 per kilogram.
"Naiknya setelah isu-isu Hormuz kedelai sebelumnya Rp10.000/kg, terus naik-naik sekarang sudah Rp11.200/kg,” ungkap Deni.
Keluhan juga datang dari pedagang tahu dan tempe di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Salah satu pedagang bernama Ipang mengaku harus menaikkan harga tempe agar tidak mengalami kerugian, meskipun daya beli konsumen menurun.
"Tempe kita terpaksa naikin gopek sampai seribu, kita enggak naikin gede-gede soalnya yang belinya juga daya belinya sudah lemah. Tempe sekarang kita jualnya Rp8.000 kalau beli dua Rp15.000, sebelumnya kita jual satunya Rp7.000, tapi kalau tahu kita enggak biar seimbang," kata Ipang (39), penjual sekaligus perajin tempe di Pasar Minggu.
(dre/ros)
























