Logo Bloomberg Technoz

Mengutip terminal Bloomberg per 6 April 2026, raksasa manajemen investasi besutan Larry Fink itu memegang 34,63 miliar saham GOTO setara dengan 2,99% dari total saham beredar perusahaan induk Gojek tersebut.

Blackrock mengelola 14 portofolio berbentuk ETF dan reksa dana yang menghimpit saham GOTO sampai awal April 2026.

Posisi Blackrock saat ini memiliki valuasi Rp1,78 triliun dengan cost basis per share atau harga pembelian rata-rata di kisaran Rp95,87 per saham selama 4 tahun terakhir.

Dengan demikian, Blackrock masih berada pada posisi floating loss lantaran saham GOTO belakangan merosot 18,75% ke level Rp52 per saham sejak awal tahun.

Saham GOTO Year to Date 2026 (Sumber: Bloomberg)

Kendati demikian, Blackrock menambah muatan sekitar 2,74 miliar pada kuartal I-2026 dengan harga rata-rata pembelian Rp60,98 per saham.

Aksi serok bawah itu berlanjut pada awal April ini dengan membeli 123,31 juta saham di harga pelaksanaan rata-rata Rp52,11 per lembar.

Selain itu, perusahaan investasi besutan investor legendaris Jack Bogle, Vanguard, ikut memperbesar taruhan di GOTO sepanjang November 2025 sampai awal April 2026. Vanguard memborong 320,28 juta saham GOTO selama periode itu.

Total kepemilikan Vanguard di GOTO mencapai 34,63 miliar saham per awal April 2026 setara 3,04% saham beredar, dengan valuasi mencapai Rp1,8 triliun. Adapun, rata-rata harga beli Vanguard berada di kisaran Rp97,86 per saham.

Belakangan, Vanguard membeli saham GOTO sebanyak 358,04 juta lembar di harga rata-rata Rp60,98 per saham pada kuartal I-2026.

Mengikuti arus dua raksasa investasi itu, Credit Agricole Group belakangan menambah taruhan sebesar 810,85 juta saham di GOTO.

Sampai awal April 2026, posisi Credit Agricole mencapai 5,9 miliar lembar setara 0,52% saham beredar GOTO.

Di sisi lain, pengelola dana pensiun pemerintah Norwegia, Norges Bank mengurangi muatan di GOTO sekitar 1,13 miliar lembar pada Desember 2025.

Total kepemilikan Norges Bank di GOTO mencapai 6,43 miliar lembar setara dengan 0,56% saham beredar.

Titik Balik

Sebelumnya, GOTO mencatat pendapatan bersih sebesar Rp18,32 triliun sepanjang 2025, naik 15% dibandingkan dengan posisi pendapatan tahun sebelumnya sekitar Rp15,89 triliun.

Sektor teknologi finansial (fintech) mencatatkan pertumbuhan pendapatan terbesar selama setahun terakhir.

Pos bisnis ini menyumbang pendapatan Rp3,87 triliun, lompat 95% dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya sebesar Rp1,94 triliun.

Sementara itu, pendapatan on-demand services (ODS) lewat bisnis delivery naik 8,1% menjadi Rp5,78 triliun dari sebelumnya Rp5,34 triliun dan pendapatan service fee menjadi Rp5,69 triliun.

Ilustrasi Tokopedia dan Gojek. (Dimas Ardian/Bloomberg)

Adapun, GOTO mampu memangkas rugi bersih ke level Rp1,18 triliun pada 2025, turun 77% dibandingkan dengan posisi rugi tahun sebelumnya. Kinerja ini juga disertai dengan penurunan beban umum dan administrasi sebesar 10% 

Menariknya posisi arus kas perusahaan yang tercermin dari arus kas bebas yang disesuaikan (adjusted free cash flow) positif sebesar Rp748 miliar pada kuartal IV dan mencapai Rp966 miliar untuk tahun penuh.

Direktur Keuangan GoTo Simon Ho menjelaskan bahwa positifnya arus kas bebas yang disesuaikan mengindikasikan penguatan fundamental bisnis dan alokasi modal yang efektif.

“Kinerja setahun penuh ini juga menjadi fondasi solid untuk pertumbuhan yang berkelanjutan dan profitabilitas seiring fokus kami menjalankan strategi di tahun 2026,” kata Simon, dalam siaran pers.

Seiring dengan pencapaian positif di 2025, manajemen GoTo menaikkan target EBITDA yang disesuaikan pada tahun ini menjadi kisaran Rp3,2 hingga Rp3,4 triliun, naik 59-69% YoY dari realisasi pencapaian adjusted EBITDA 2025.

Belakangan, sejumlah sekuritas menyematkan pandangan positif terhadap GOTO seiring dengan perbaikan kinerja keuangan sepanjang 2025.

UBS merekomendasikan buy terhadap GOTO dengan target harga mencapai Rp100 per saham selama satu tahun mendatang. Deutsche Bank turut menyarankan buy dengan target harga mencapai Rp95 per saham.

Analis dari Deutsche Bank Peter Milliken berpendapat kinerja GOTO sepanjang 2025 mencerminkan titik balik dengan segmen fintech mencatatkan peforma impresif.

“Segmen fintech kini tidak hanya menguntungkan tetapi juga menjadi pendorong laba, dan diperkirakan menyumbang sekitar dua pertiga dari peningkatan laba grup yang ditargetkan pada 2026,” kata Milliken dikutip dari riset, Rabu (8/4/2026).

Milliken menambahkan prospek saham GOTO belakangan juga didorong potensi buyback sebesar US$200 juta hingga akhir Juni 2026.

“Meskipun kami menurunkan target harga dari Rp105 menjadi Rp95, keyakinan kami tetap kuat didukung oleh arah pertumbuhan perusahaan yang jelas,” kata Milliken.

(naw)

No more pages