Logo Bloomberg Technoz

Sementara itu menurut David, dari sisi internal tak banyak sentimen yang mempengaruhi rupiah, karena secara fundamental, perekonomian Indonesia masih cukup kuat.

“Tinggal kita meyakinkan juga terutama rating agency supaya kita sampaikan bagaimana risiko fiskal, terutama yang jadi concern mereka kan risiko fiskal. Supaya mereka tetap confidence terhadap outlook investment grade kan. Bahkan one notch di atas investment grade. Nah itu, jadi lebih dari sisi fiskal sih,” kata David.

Sementara, David melihat secara moneter, Bank Indonesia (BI) sudah cukup menjaga volatilitas, hal yang menjadi pertimbangan penting bagi pelaku bisnis.

“Karena pelaku bisnis itu lebih concern terhadap volatilitas sebenarnya. Jadi volatilitas dibanding levelnya gitu. Jadi buat mereka itu, mereka malah justru kalau keyakinan pelaku usaha itu dalam mengambil keputusan investasi, bisnis, ekspor, impor, Itu akan lebih positif kalau volatilitas rupiahnya rendah,” katanya.

Waspadai Inflasi

Meski demikian, David juga mengingatkan penurunan nilai tukar rupiah ini terhadap inflasi. Menurutnya dengan menurunnya kurs yang terjadi ini, risiko inflasi menjadi semakin lebar.

“Ini tentu akan pengaruh nanti ke inflasi ya kalau misalnya kurs masih relatif melemah, kurs rupiah maksudnya ya. Nah ini ada risiko inflasi yang harus kita waspadai ya ke depan,” katanya, 

Selain inflasi, David menyoroti beban fiskal yang juga akan meningkat dengan pelemahan rupiah yang terus terjadi saat ini.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah spot ditutup terdepresiasi 0,33% di level terendah Rp17.095/US$, yang merupakan posisi penutupan (closing) terlemah nilai tukar rupiah di pasar spot dalam sejarah Indonesia merdeka.

Pelemahan rupiah selama tiga beruntun terjadi di tengah isu perang AS-Israel terhadap Iran yang memicu lonjakan harga minyak mentah di atas US$100 per barel. Bahkan ada beberapa analis yang telah menguji skema jika harga minyak mentah menembus di level US$200 per barel. 

Di tengah upaya intervensi stabilisasi nilai tukar yang dilakukan Bank Indonesia, rupiah melemah bersama peso Filipina di tengah kekhawatiran terkait kondisi fiskal yang semakin melebar. 

Sebaliknya, beberapa mata uang kawasan hari ini berbalik rebound seperti won Korea Selatan, yuan China, yuan offshore, baht Thailand, rupee India, dolar Singapura, yen Jepang, dolar Taiwan dan Hong Kong.

Sementara, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, stabilitas menjadi prioritas utama bagi BI. Untuk itu, BI akan  mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki dan juga kebijakan OM untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

“BI secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang, baik di spot market, [Domestic Non Deliverable Forward] DNDF maupun [Non-Deliverable Forward] NDF di offshore market,” kata Destry dalam keterangan resmi, Selasa (7/4/2026). 

Dia menjelaskan ⁠dampak konflik Timur Tengah bersifat dua arah, yakni kenaikan harga komoditas dan posisi Indonesia sebagai negara eksportir  dapat memberikan efek positif bagi perekonomian RI. 

“Sehingga dapat mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi tersebut,” ujarnya.

(ell)

No more pages