Konsistensi Kebijakan Jadi Kunci Kekuatan Ekonomi RI
Redaksi
07 April 2026 17:48

Bloomberg Technoz, Jakarta - Indonesia kini dinilai tidak lagi bergantung semata pada pertumbuhan ekonomi untuk menarik arus modal global. Di tengah dinamika ekonomi dunia yang semakin tidak pasti, konsistensi kebijakan justru menjadi faktor kunci dalam memperkuat daya tarik investasi.
Chief Economist IQI Global, Shan Saeed, melihat bahwa profil makroekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 menunjukkan fondasi yang semakin solid. Kondisi ini membuat Indonesia semakin layak menjadi tujuan investasi di tengah tekanan global.
“Dalam ekonomi global saat ini, pertumbuhan saja tidak cukup untuk menarik kapital. Konsistensi kebijakan menjadi faktor utama. Indonesia menunjukkan disiplin tersebut,” ujar Shan dalam riset terbarunya.
Strategi menjaga stabilitas, alih-alih melakukan ekspansi agresif, dinilai menjadi langkah tepat. Di tengah tekanan harga energi, likuiditas global yang ketat, serta volatilitas pasar, pendekatan ini membuat ekonomi Indonesia lebih tahan terhadap guncangan.
Pertumbuhan ekonomi tetap stabil di kisaran 5%, dengan proyeksi tahunan antara 5,0% hingga 6,0%. Struktur pertumbuhan juga dinilai kuat karena didorong oleh konsumsi domestik sebesar 53% dari PDB dan investasi di kisaran 30%–31%.
“Ini bukan pertumbuhan yang didorong oleh ekses. Ini adalah pertumbuhan yang dibangun di atas struktur yang kuat,” kata Shan.
Transformasi Struktur dan Daya Tahan Eksternal
Dari sisi eksternal, kualitas ekspor Indonesia terus meningkat. Komoditas seperti batu bara, kelapa sawit, dan nikel masih mendominasi, namun pergeseran menuju hilirisasi logam dan rantai pasok kendaraan listrik semakin terlihat.
Nilai ekspor pada kuartal I-2026 diperkirakan mencapai US$62 miliar hingga US$65 miliar, dengan neraca perdagangan tetap mencatatkan surplus. Hal ini menunjukkan penguatan posisi Indonesia dalam rantai nilai global.
“Indonesia tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah. Negara ini mulai naik ke rantai nilai dengan mengubah sumber daya menjadi leverage industri,” ujar Shan.
Stabilitas eksternal juga tercermin dari defisit transaksi berjalan yang terjaga di kisaran 1% dari PDB. Cadangan devisa mencapai sekitar US$150 miliar atau setara enam bulan impor, memberikan bantalan kuat terhadap tekanan eksternal.
Nilai tukar rupiah yang bergerak di kisaran Rp16.000 hingga Rp16.700 per dolar AS dinilai menunjukkan penyesuaian yang sehat dan terkendali.
“Pasar bisa menerima depresiasi. Yang tidak bisa diterima adalah ketidakteraturan. Indonesia menawarkan stabilitas tersebut,” kata Shan.
Dari sisi kebijakan, disiplin menjadi fondasi utama. Bank Indonesia menjaga suku bunga di kisaran 4,75%–5,00% untuk mengendalikan inflasi sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar. Inflasi sendiri tetap terkendali di kisaran 3%–3,6%.
Sementara itu, kebijakan fiskal juga menunjukkan kehati-hatian. Defisit anggaran diproyeksikan sekitar 2,5% dari PDB dengan rasio utang pemerintah di kisaran 40%, mencerminkan pengelolaan yang prudent.
“Ini bukan kebijakan yang reaktif. Ini kebijakan yang terukur dan antisipatif,” ujar Shan.
Aliran investasi asing langsung (FDI) turut menunjukkan peningkatan kualitas. Estimasi mencapai US$13 miliar hingga US$15 miliar pada kuartal I-2026, dengan fokus pada sektor strategis seperti hilirisasi nikel, kendaraan listrik, energi, dan manufaktur.
“Ini bukan capital jangka pendek yang mengejar yield. Ini adalah capital jangka panjang yang sejalan dengan transformasi struktural Indonesia,” kata Shan.
Dalam konteks pasar, peluang investasi dinilai semakin menarik. Obligasi pemerintah menawarkan imbal hasil riil yang kompetitif, sementara rupiah memberikan stabilitas carry. Pasar saham juga mendapat dukungan dari sektor keuangan, komoditas, dan ekosistem kendaraan listrik.
Shan menilai Indonesia kini masuk dalam kategori “quality emerging markets”, yakni negara berkembang yang mampu menjaga stabilitas di tengah tekanan global.
“Di dunia yang penuh volatilitas, kapital tidak lagi hanya mencari pertumbuhan. Kapital mencari konsistensi, disiplin, dan ketahanan. Indonesia telah menunjukkan itu,” ujarnya.
Meski demikian, risiko tetap perlu diwaspadai. Lonjakan harga minyak di atas US$120 per barel berpotensi menekan subsidi dan inflasi. Selain itu, pengetatan likuiditas global dan perlambatan ekonomi China juga menjadi faktor eksternal yang perlu dicermati.
Namun secara keseluruhan, risiko tersebut dinilai masih dapat dikelola dengan kerangka kebijakan yang ada.
“Indonesia tidak kebal terhadap guncangan, tetapi memiliki struktur yang cukup kuat untuk menyerap tekanan dan tetap bergerak stabil,” kata Shan.































