"Beberapa waktu yang lalu, pak menteri juga sampaikan bahwa akan masuk beras impor dari Amerika, bahwa itu adalah beras kategori khusus. Kemudian juga ada berita bagus, kita akan ekspor beras ke Saudi. Ini juga saya mohon untuk bisa diberikan penjelasan,” tutur dia.
Narasi surplus pangan
Dalam kesempatan yang sama, Anggota Fraksi PKS Johan Rosihan juga turut mempertanyakan narasi surplus pangan nasional yang dinilai tidak mencerminkan ketahanan yang sesungguhnya karena masih tingginya ketergantungan impor.
Dia lantas memaparkan, terdapat sejumlah komoditas strategis yang masih bergantung pada impor. Berdasarkan data internalnya, gandum, misalnya, yang masih impor 100% dari kebutuhan nasional.
Kemudian, kedelai juga masih impor sebanyak 2,5 juta ton. Sementara, produksi dalam negeri baru hanya mencapai 300 ribu ton. "Kedelai impor 2,5 juta ton, kita hanya bisa produksi 300 ribu. Gandum 100% impor, defisit 3,4 juta ton. Pakan ikan 89% dari impor. Daging 30–40% itu impor," kata dia.
Menurut Johan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa surplus pangan Indonesia sangat bergantung pada stabilitas global. Johan memperingatkan bahwa gangguan geopolitik dapat langsung berdampak pada ketahanan pangan nasional.
Oleh sebab itu, dirinya juga menilai pemerintah saat ini belum cukup menyaipkan skenario krisis pangan dalam jangka pendek, terutama di tengah ketidakpastian global dari adanya eskalasi konflik geopolitik yang terjadi.
“Yang ingin saya katakan bahwa surplus pangan kita itu sangat tergantung dari kondisi global. Artinya ketika kondisi pangan global terganggu maka pasti pangan kita terganggu,” katanya.
(ain)






























