Logo Bloomberg Technoz

Efek Perang, Beban Bunga Emiten Bisa Bertambah hingga Triliunan

Nyoman Ary Wahyudi
08 April 2026 07:30

Karyawan melintas di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (29/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto
Karyawan melintas di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (29/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto

Bloomberg Technoz, Jakarta - Sejumlah emiten bakal menanggung biaya refinancing yang lebih besar untuk melunasi surat utang atau obligasi korporasi jatuh tempo tahun ini.

Investor belakangan menagih imbal hasil yang lebih menarik di tengah yield surat utang pemerintah yang menguat selama satu bulan terakhir.

PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo membeberkan yield obligasi korporasi tenor 3 tahun rating AAA menguat menjadi 6,7% pada 16 Maret 2026, dari posisi 6,27% pada 10 Maret 2026.


Pada periode yang sama, menurut Pefindo, yield rating AA turut menguat ke level 7% dari 6,59%, rating A menguat ke 8,62% dari 8,26% dan imbal hasil rating BBB lompat ke 10,25% dari posisi sebelumnya di 9,85%.

“Saya menilai cost of fund akan lebih tinggi dibandingkan 2025. Yield korporasi naik 30-40 bps hanya dalam periode 10-16 Maret 2026,” kata Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin saat dihubungi, Senin (6/4/2026).