Logo Bloomberg Technoz

Pasar berada dalam mode wait and see, dengan “penganut bullish kurang memiliki keyakinan yang cukup untuk mempertahankan penembusan dan pihak bearish yang tidak mampu memaksa terjadinya penurunan yang signifikan.”

Bitcoin tak bertahan lama di posisi bullish, kini harganya kembali turun ke US$68.000.

Risiko eskalasi dalam perang dengan Iran telah membuat para investor sebagian besar menahan diri untuk tidak bertindak, setelah dilaporkan bahwa Iran telah menolak usulan gencatan senjata.

Trump mengatakan bahwa pembukaan selat tersebut, yang merupakan jalur perdagangan maritim yang sangat penting, akan menjadi bagian dari kesepakatan apa pun untuk mengakhiri perang.

Sejak perang di kawasan Timur Tengah terjadi, harga minyak telah melonjak. Minyak mentah Brent naik pada hari Selasa, menambah kenaikan sekitar 50% sejak dimulainya konflik pada akhir Februari. Emas relatif stabil sepanjang hari dan turun lebih dari 10% sejak dimulainya perang.

Produk ETF Spot Bitcoin milik BlackRock, iShares. (Dok: Bloomberg)

Bitcoin awalnya relatif tangguh, dengan tanda-tanda bahwa tekanan jual dari institusi mulai mereda. Produk ETF Bitcoin spot yang terdaftar di AS mencatat arus masuk bersih sebesar US$471,3 juta pada Senin, menambah arus masuk US$22,3 juta pekan lalu.

Bitcoin sebagian besar terjebak pada kisaran harga US$65.000—US$75.000 sejak awal Maret. Sejak aksi jual tajam pada Oktober, perdagangan kripto melemah. Kini para trader lebih memilih menunggu berakhirnya perang dan regulasi kripto terbaru di AS sebagai potensi pendorong kenaikan aset digital.

“Skenario bullish bergantung pada dua katalis: gencatan senjata AS-Iran yang terkonfirmasi dan berkelanjutan yang membuat harga minyak turun di bawah US$100, serta pengesahan Undang-Undang Clarity AS, yang diperkirakan pada akhir April, yang dipantau dengan cermat oleh para pelaku pasar institusional sebagai pembuka jalan regulasi,” kata Lucas.

(bbn)

No more pages