Logo Bloomberg Technoz

Minyak Reli Gegara Hormuz, AS Bersiap Jorjoran Produksi Shale Oil

News
07 April 2026 09:20

Ladang shale oil di Cekungan Permian AS./Bloomberg-Justin Hamel
Ladang shale oil di Cekungan Permian AS./Bloomberg-Justin Hamel

David Wethe dan Kevin Crowley - Bloomberg News

Bloomberg, Para pengebor minyak serpih atau shale oil Amerika Serikat (AS) diperkirakan segera mengikuti seruan Donald Trump untuk meningkatkan produksi, tetapi bukan sekadar karena titah Presiden.

Lonjakan harga minyak mentah sebesar 68% sejak AS dan Israel memulai serangan terhadap Iran sekitar lima pekan lalu merupakan insentif yang cukup untuk memaksa para bos minyak Amerika untuk meningkatkan produksi, menurut para pengamat yang beragam seperti Citigroup Inc., Enverus Inc., dan analis pemerintah di Energy Information Administration (EIA).


Eksplorasi minyak serpih membutuhkan harga minyak antara US$62 dan US$70 per barel untuk mendapatkan keuntungan dari sumur-sumur baru, menurut Federal Reserve Bank of Dallas. Pada Senin siang, patokan harga minyak AS mendekati US$113.

Indeks dolar AS selama sebulan terakhir. Per Selasa 7 April 2026, indeks dolar AS bertahan di level 100. (Bloomberg)

“Kenaikan harga tentu akan meningkatkan produksi di Amerika Serikat,” kata Mike Sommers, kepala eksekutif kelompok lobi industri American Petroleum Institute, dalam sebuah wawancara di Bloomberg Television.