Logo Bloomberg Technoz

“Misalnya satu atau dua hal yang membuat global provider itu untuk jangka pendek ini menurunkan bobot. Ya potensi itu ada,” jelasnya.

Kendati demikian, BEI menekankan pembenahan yang tengah ditempuh justru memperkuat fondasi pasar modal Indonesia dalam jangka panjang.

Reformasi pada aspek transparansi, kedalaman pasar, hingga tata kelola diyakini akan meningkatkan daya tarik Indonesia di mata investor global.

“Kami menyadari bahwa apa yang kita lakukan selama ini untuk menjawab concern dari global index provider adalah untuk kebaikan jangka panjang industri pasar modal kita,” ujar Jeffrey.

Dia pun optimistis bahwa bobot Indonesia dalam indeks global akan kembali meningkat dalam jangka panjang, seiring perbaikan struktural yang terus dilakukan.

“Dengan transparansi yang lebih baik, dengan pasar yang lebih dalam, dengan tata kelola yang jauh lebih baik, ke depan kami yakin bobot Indonesia akan jauh lebih tinggi dari saat ini,” katanya.

Sebelumnya, BEI membeberkan sejumlah saham papan atas dengan konsentrasi kepemilikan tinggi pada pada Kamis (2/4/2026).

Sejumlah saham itu di antaranya PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan konsentrasi 97,31%, PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) dengan konsentrasi 97,75%, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan konsentrasi 95,76% dan PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) dengan konsentrasi 95,35%.

Selain itu, beberapa emiten lain dengan konsentrasi pemegang saham di antaranya PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) mencapai 99,85%, PT Ifishdeco Tbk (IFSH) sebesar 99,77%, PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) sebesar 98,35%, PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) sebesar 95,76% dan PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) sebesar 95,47%.

(fik/naw)

No more pages