Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, menilai pengerjaan proyek infrastruktur seperti HBR II selaras dengan langkah strategis perseroan untuk kembali menitikberatkan bisnis pada sektor konstruksi murni.
Upaya tersebut menjadi bagian dari agenda restrukturisasi guna menekan risiko dari investasi jangka panjang yang berpotensi membebani neraca. Per Februari 2026, WIKA tercatat tengah menggarap 85 proyek dengan total nilai kontrak mencapai Rp31,35 triliun.
“Tahun 2026 adalah tahun kebangkitan. Setelah tahun 2025 masa pemerintahan baru, ada efisiensi, saya meyakini bahwa 2026 akan lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” pungkas Agung.
Sepanjang tahun lalu, WIKA membukukan perolehan kontrak baru senilai Rp17,46 triliun, sehingga total kontrak berjalan mencapai Rp50,52 triliun. Dari kinerja tersebut, perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp20,45 triliun, yang terdiri dari non-KSO Rp13,33 triliun dan KSO Rp7,12 triliun.
(dhf)




























