Hanya saja, pendapatan MEDC sepanjang 2025 belakangan ditekan kerugian penurunan nilai aset yang signifikan sebesar US$128,78 juta atau sekitar Rp2,14 triliun.
Kerugian penurunan nilai aset itu naik sekitar 3 kali lipat dari posisi kerugian impairment tahun sebelumnya sekitar US$29,45 juta.
Mengutip siaran pers MEDC, Kamis (2/4/2026), tekanan pada laba itu juga disebabkan karena kontribusi yang lebih rendah dari PT Amman Mineral Tbk (AMMN), biaya pengeboran dry hole di PSC Beluga dan melemahnya harga komoditas tahun lalu.
Di sisi lain, utang konsolidasi sampai akhir 2025 menjadi US$3,64 miliar, terutama untuk pembelian FPSO Marlin Natuna untuk memastikan keberlanjutan produksi di Lapangan Forel (South Natuna Sea Block B), serta pembiayaan proyek pengembangan pembangkit energi terbarukan dan pembangkit listrik berbasis gas.
Konsekuensinya, rasio utang bersih terhadap EBITDA untuk segmen migas menjadi 2 kali, dibandingkan dengan rasio tahun sebelumnya sebesar 1,8 kali.
Sementara itu, likuiditas relatif kuat dengan posisi kas sebesar US$633 juta pada akhir 2025, dibandingkan US$697 pada 2024.
“Kami berkomitmen untuk memberikan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan, dengan target produksi migas dan penjualan listrik yang kembali mecatatkan rekor baru bagi Medco,” kata Direktur Utama MEDC Hilmi Panigoro lewat siaran pers.
(naw)





























