"Ada beberapa faktor yang lain, yang juga menyebabkan industri mengurangi sedikit produksinya, yakni terkait dengan penurunan demand domestik pada maret 2026," tutur dia.
Dari sebanyak 23 subsektor industri, sebanyak 7 subsektor mengalami kontraksi. Sementara itu, sebanyak 16 subsektor lainnya tercatat masih ekspansif yang berkontribusi sebesar 78,3% terhadap PDB industri nonmigas selama kuartal VI-2025.
Dua subsektor industri dengan nila IKI tertinggi adalah industri percetakan dan reproduksi media rekaman (KBLI 18) dan industri kendaraan bermotor, trailer, dan semitrailer (KBLI 29).
Sedangkan, subsektor industri yang kontraksi adalah industri minuman; industri pengolahan tembakau; industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur) serta barang anyaman dari bambu, dan rotan sejenisnya; industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia; industri barang galian bukan logam; industri komputer, barang elektronik dan optik; serta industri peralatan listrik.
Di sisi lain, nilai IKI variabel pesanan baru juga mengalami penurunan sebesar 3.14 poin menjadi 52,20 poin, diikuti, variabel produksi yang juga melambat sebesar 2,80 poin atau mencapai 51,55. Sebaliknya, nila IKI variabel persediaan produk naik 1,22 poin menjadi 51,47.
Optimisme Menurun
Dengan menurunnya IKI tersebut, Febri juga melaporkan tingkat optimisme pelaku usaha terhadap kondisi usahanya dalam 6 bulan ke depan menurun 1,7% menjadi 71,8% dibandingkan bulan sebelumnya yang masih 73,5%.
"Sementara itu, sebanyak 21,4% pelaku usaha mengatakan kondisi usahanya stabil selama 6 bulan mendatang, yang juga menurun 1,2% dibandingkan bulan sebelumnya," kata Febri.
Dengan demikian, persentase pesimisme pandangan pelaku usaha terhadap kondisi usaha dalam 6 bulan ke depan pun naik 2,9% menjadi 6,8% dari sebelumnya yang masih sebesar 3,9%.
(ain)






























