Logo Bloomberg Technoz

Jerit Pengusaha Truk Respons Pembatasan Solar: Rasio BBM Kami 1:2

Redaksi
31 March 2026 12:20

Sejumlah truk angkutan barang melintas di ruas tol Tangerang - Jakarta, Banten, Senin (1/4/2024). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Sejumlah truk angkutan barang melintas di ruas tol Tangerang - Jakarta, Banten, Senin (1/4/2024). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) mengaku kaget merespons langkah pemerintah membatasi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, termasuk solar. Wasekjen Aptrindo, Agus Pratiknyo mengingatkan pembatasan solar akan berdampak inflasi dan ledakan harga komoditas.

"Mengagetkan sekali. Bagi dunia truck-ing ini bisa celaka. Inflasi di mana-mana," ujar Agus kepada Bloomberg Technoz, Selasa (31/3/2026).

BPH Migas diketahui menerbitkan beleid yang bertujuan membatasi pembelian Jenis BBM Tertentu (JBT) Solar dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite. Aturan mulai berlaku 1 April 2026 mewajibkan badan usaha (BU) penugasan alias PT Pertamina (Persero) untuk mengendalikan penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.


Untuk Solar, pengendalian penyaluran untuk kendaraan bermotor perseorangan atau umum yang dimanfaatkan sebagai angkutan orang dan barang roda empat paling banyak 50 liter/hari untuk setiap kendaraan. Kemudian, kendaraan bermotor umum untuk angkutan orang dan barang roda enam atau lebih paling banyak 200 liter Solar/hari untuk setiap kendaraan.

Agus mengilustrasikan, rasio pemakaian solar pada truk besar umumnya adalah 1:2 (satu liter untuk dua kilometer). Sementara untuk truk di bawahnya, paling hemat adalah rasio 1:6. Aptrindo sendiri memiliki total lebih dari 3.000 pengusaha angkutan truk se-Indonesia.