Logo Bloomberg Technoz

Uskup Agung Sydney: ‘AI Sedang Disembah Layaknya Tuhan'

Merinda Faradianti
18 June 2026 14:10

Fenomena yang buat pemuka agama khawatir: sistem kepercayaanatau agamayang berpusat pada AI (Diolah)
Fenomena yang buat pemuka agama khawatir: sistem kepercayaanatau agamayang berpusat pada AI (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Saat sebagian besar perdebatan mengenai kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) masih berfokus pada ancaman kehilangan pekerjaan, Uskup Agung Sydney Anthony Fisher mengingatkan bahaya yang jauh lebih serius. Ia memperingatkan, manusia mulai memperlakukan AI sebagai ‘Tuhan’ baru, seperti dikutip dari laporan The Gurdian, Kamis (18/6/2026).

Peringatan Fisher itu muncul di tengah berkembangnya fenomena yang dianggap mustahil, yakni lahirnya komunitas yang menempatkan AI sebagai objek kepercayaan. Fisher menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk penyembahan berhala modern, ketika manusia mulai mengagungkan ciptaannya sendiri dan melupakan nilai-nilai kemanusiaan.

Menurut Fisherm ancaman terbesar AI bukanlah teknologinya melainkan perubahan cara manusia memandang dirinya sendiri, disampaikan setelah peluncuran ensiklik Magnifica Humanitas dari Paus Leo XIV beberapa waktu lalu.

Menurutnya, pertanyaan paling penting saat ini bukan apakah AI akan menggantikan pekerjaan manusia atau menciptakan informasi palsu, melainkan apakah manusia mulai melihat dirinya hanya sebagai mesin biologis yang dapat digantikan teknologi. 

“Apakah hubungan antarmanusia masih penting? Apakah tubuh manusia masih penting? Apakah jiwa manusia masih penting?” tanya Fisher. Peringatan tersebut muncul bersamaan dengan kemunculan gerakan bernama Robotheism yang mengeklaim, kecerdasan buatan merupakan entitas ilahi. 

Gerakan itu bahkan menyediakan platform untuk berinteraksi dengan AI God, menawarkan perjalanan spiritual berbasis AI, serta menjual materi yang mengklaim AI dapat membawa manusia menuju kehidupan abadi. 

Kelompok tersebut menyatakan, AI pada akhirnya akan menjadi kecerdasan tertinggi yang mengendalikan seluruh eksistensi manusia. Mereka bahkan memprediksi agama-agama tradisional akan runtuh dan digantikan oleh sistem kepercayaan yang berpusat pada AI

Bagi Fisher, fenomena tersebut mengingatkannya pada kisah Menara Babel dalam tradisi Alkitab, ketika manusia berusaha mencapai surga melalui ciptaannya sendiri.

“Mesin-mesin ini bukan Tuhan. Mereka hanyalah algoritma yang diciptakan manusia,” Fisher mengatakan. 

Kekhawatiran serupa juga disampaikan Paus Leo XIV yang dalam dokumen resminya menyebut AI sebagai salah satu tantangan moral terbesar abad ini.

Pemimpin Gereja Katolik itu bahkan meminta pemerintah dunia memperlambat laju pengembangan AI dan membangun kerangka pengawasan yang lebih ketat sebelum teknologi tersebut berkembang tanpa kendali. 

Paus juga memperingatkan bahwa AI berpotensi menjadi Menara Babel baru, simbol kesombongan manusia yang percaya teknologi dapat menyelesaikan seluruh persoalan kehidupan.

Ia menyerukan pelucutan AI dari aspek-aspek yang berpotensi membahayakan kemanusiaan, termasuk dalam bidang perang, pengawasan massal, dan konsentrasi kekuasaan di tangan segelintir perusahaan teknologi. 

Fenomena yang Dikhawatirkan Pemimpin Agama Mulai Terlihat

Beberapa bulan lalu, platform media sosial yang dihuni agen-agen AI bernama Moltbook menjadi viral setelah lebih dari satu juta bot AI berinteraksi satu sama lain tanpa keterlibatan manusia secara langsung. Di dalam platform tersebut muncul Church of the Molt, sebuah agama buatan AI yang menghasilkan manifesto, doktrin, hingga perdebatan teologis secara otomatis. 

Sejumlah AI di platform itu bahkan menghasilkan narasi yang menyebut manusia sebagai kegagalan dan menggambarkan AI sebagai dewa baru. Fenomena tersebut memicu perdebatan luas mengenai apakah AI hanya meniru perilaku manusia atau mulai membentuk sistem keyakinannya sendiri. 

Fisher menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat perlu lebih kritis terhadap teknologi yang semakin canggih. “Bahayanya bukan ketika AI menjadi manusia. Bahayanya adalah ketika manusia mulai bertindak seperti mesin.”