“Kerugiannya adalah stok dunia berkurang, harga melonjak naik fluktuatif tergantung situasi perang, artinya siap siap untuk rebutan dan gerak cepat untuk mengamankan pasokan dari pasar spot,” kata Hadi ketika dihubungi, Senin (30/3/2026).
Profit Hulu Migas
Di sisi lain, dia memandang potensi tambahan pendapatan yang masih bisa didapatkan Indonesia sebenarnya berasal dari sektor hulu migas. Itu pun masih lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan anggaran subsidi energi dan biaya pengadaaan minyak.
“Menikmati profit dari hulu, tetapi tidak sebanding dengan nombok impor crude; pagu subsidi membengkak sementara ruang fiskal makin sempit, devisa terkuras untuk tambahan impor crude dan BBM,” ungkap Hadi.
Sebagai gambaran, kata Hadi, pada 1973 produksi minyak nasional mencapai 1,2 juta bph. Pada saat yang sama, embargo minyak dari negara Timur Tengah ke negara pendukung Israel pada 1973 menyebabkan harga minyak naik dari US$3/barel menjadi US$12/barel.
Saat itu, kata Hadi, permintaan BBM masih cukup rendah hanya sekitar 20.000 bph. Di sisi lain, penduduk Indonesia juga masih sekitar 100 juta jiwa dan kebutuhan BBM untuk transportasi serta pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) terbilang masih cukup rendah.
Untuk diketahui, pada Oktober 1973, perang Yom Kippur meletus antara Israel dengan negara-negara Arab yang dipimpin oleh Mesir dan Suriah.
Kondisi tersebut ditanggapi oleh enam negara penghasil minyak di Teluk Persia yang merupakan anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dengan menaikkan harga minyak mentah.
Dalam laporan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) dijelaskan bahwa Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Arab (OAPEC) memutuskan untuk mengurangi produksi minyak secara bertahap dan memberlakukan embargo minyak terhadap negara-negara yang mendukung Israel, termasuk AS, Belanda, Portugal, dan Afrika Selatan.
Alih Impor
Adapun, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengklaim Indonesia telah mengalihkan impor minyak mentah dari Timur Tengah, seiring ditutupnya jalur perdagangan migas dunia di Selat Hormuz.
Kendati demikian Bahlil enggan mengungkapkan sumber impor baru yang dilakukan Indonesia dan tak menjelaskan besaran impor yang telah direlokasi.
“Bahwa impor crude kita dari Middle East itu 20%. Sekarang kami sudah menemukan sumber crude baru selain dari Middle East. Tolong jangan tanyakan lagi dari mana yang jelas insyallah semuanya ada,” kata Bahlil kepada awak media di Kemenko Perekonomian, Jumat (27/3/2026).
Berdasarkan data Dewan Energi Nasional (DEN) dan BPH Migas, komposisi impor minyak mentah Indonesia pada 2025 berasal dari berbagai negara mitra sehingga sumbernya terdiversifikasi.
Antara lain Nigeria sebesar 34,07 juta barel atau sekitar 25%, Angola sebesar 28,5 juta barel atau 21%, Arab Saudi sebesar 25,36 juta barel atau sekitar 19%, Brasil 9%, Australia 8%, serta sejumlah negara lainnya seperti Gabon, AS, dan Malaysia.
Untuk impor BBM, berdasarkan data Kementerian ESDM, pada 2025 Indonesia tercatat mengimpor BBM paling banyak dari Singapura dan Malaysia.
Terdapat negara lainnya yang turut menjadi sumber impor BBM RI, antara lain China, Korea Selatan, Oman, Uni Emirat Arab (UEA), India, Mesir, Jepang, dan Taiwan.
Sekadar informasi, harga minyak mentah dunia kembali merangkak naik setelah kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, resmi terlibat dalam perang Timur Tengah.
Situasi ini diperparah dengan tibanya lebih banyak pasukan AS di kawasan tersebut, yang memicu kekhawatiran akan eskalasi besar serta guncangan lanjutan di pasar energi.
Harga minyak Brent untuk pengiriman Mei naik 1,8% menjadi US$114,65/barel hari ini pada pukul 11:21 pagi di Singapura. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 0,9% menjadi US$100,55/barel.
(azr/wdh)
























