Logo Bloomberg Technoz

Selanjutnya pada 2026, OECD menilai pembatalan tarif resiprokal AS menyusul putusan Mahkamah Agung AS kepada mayoritas negara berkembang, termasuk Indonesia, sebenarnya menjadi kabar baik untuk perkembangan ekonomi. Namun demikian, asumsi ini hanya berlaku jika tarif 10% berlaku sepanjang 2026 dan 2027.

“Di Indonesia, pertumbuhan diproyeksikan akan tetap stabil karena stimulus fiskal baru-baru ini mendukung pertumbuhan konsumsi swasta,” tulis OECD dalam laporan tersebut, dikutip Senin (30/3/2026), seraya memperingatkan perlambatan juga sangat mungkin terjadi karena dampak dari menyusutnya kinerja ekonomi China.

Di sisi lain, tantangan yang muncul pada awal tahun ini yakni kenaikan harga energi global akibat gangguan pasokan dari negara-negara Teluk usai perang Iran kontra AS-Israel meletus pada 28 Februari 2026. Kenaikan harga energi tersebut dinilai akan meningkatkan biaya produksi dan menekan permintaan.

Kenaikan harga energi itu dinilai akan meningkatkan biaya produksi dan mendorong inflasi, yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat. OECD menegaskan bahwa jika tekanan ini berlanjut, maka akan berdampak negatif terhadap permintaan dan pertumbuhan ekonomi.

Bagi Indonesia, dampak ini menjadi lebih terasa karena masih bergantung pada impor energi. Kenaikan harga global berpotensi langsung menekan daya beli masyarakat serta margin pelaku usaha.

“Pertumbuhan PDB [Produk Domestik Bruto] global diproyeksikan melambat menjadi 2,9% pada tahun 2026 sebelum sedikit meningkat menjadi 3,0% pada tahun 2027,” mengutip laporan tersebut.

OECD merevisi tingkat inflasi utama Indonesia pada 2026 akan naik dari 3,1% dari perkiraan sebelumnya menjadi 3,4%. Setelahnya pada 2027, inflasi proyeksi turun lebih dari menjadi 2,6% atau lebih rendah dari prediksi sebelumnya yang sebesar 3,2%.

Meski inflasi diperkirakan naik, bank sentral diperkirakan akan tetap menjaga suku bunga di tingkat moderat. Keputusan Bank Indonesia (BI)--termasuk suku bunga acuan--ke depan dinilai masih seimbang untuk meminimalkan risiko volatilitas mata uang dan menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali.

Meski demikian, OECD menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif tetap terjaga. Dukungan kebijakan fiskal dan konsumsi domestik menjadi faktor penopang utama yang menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global.

“Di Indonesia, pertumbuhan diproyeksikan akan tetap stabil karena stimulus fiskal baru-baru ini mendukung pertumbuhan konsumsi swasta,” tulis laporan tersebut.

(lav)

No more pages