Logo Bloomberg Technoz

Harga Minyak Makin Melejit, Rupiah Kembali Terjepit

Tim Riset Bloomberg Technoz
30 March 2026 09:49

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuka awal pekan dengan pelemahan, menyusul kembali melonjaknya harga minyak mentah jenis brent hingga menyentuh US$115 per barel. 

Pagi ini, Kamis (30/3/2026), rupiah spot dibuka melemah 0,08% di Rp16.9978/US$. Tak berselang lama, rupiah kembali tergerus 0,12% ke Rp16.985/US$ pada 09:05 WIB.

Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang bergerak di zona merah. Peso Filipina terdepresiasi sebesar 0,37%, disusul baht Thailand 0,27%, dolar Taiwan 0,25%, won Korea Selatan 0,18%, ringgit Malaysia 0,14%, yuan China 0,13%, yuan offshore 0,09%, dan dolar Singapura 0,05%. 

Pergerakan mata uang di kawasan Asia pada Senin pagi (30/3/2026). (Bloomberg)

Pasar saham Asia juga melorot setelah terjadi lonjakan harga minyak lantaran militan Houthi yang berbasis di Yaman ikut bergabung dalam konflik Timur Tengah. Melansir data Bloomberg, indeks Nikkei 225 terpangkas 4,3%, Topix 3,8%, KOSPI 3,47%, KOSDAQ 3,2%, Hang Seng 1,45% dan bursa Taiwan TAIEX 1,78%. 

Keterlibatan faksi Houthi ikut meningkatkan kekhawatiran bahwa pasokan energi global akan semakin terganggu. Perdamaian masih jauh panggang dari api, setelah Israel kembali melancarkan serangan ke Teheran pada hari Minggu.