Logo Bloomberg Technoz

Tidak hanya minyak, perang juga membuat harga gas alam melonjak. Harga gas alam TTF (Belanda) meroket 22,52% dalam sebulan terakhir.

Sata harga gas makin mahal, mau tidak mau batu bara kembali dilirik, terutama untuk pembangkit listrik. Bloomberg News mengabarkan, Jepang akan meningkatkan penggunaan pembangkit listrik bertenaga batu bara.

Di Eropa pun demikian. Jika harga gas terus membumbung tinggi, maka Belanda, Polandia, dan Republik Ceska akan kembali menggunakan batu bara.

“Kita sedang melihat tekanan dari sisi pasokan. Jika Anda berada di Asia, maka sangat mungkin Anda akan mengubah strategi jangka panjang yaitu dengan bergantung kepada batu bara untuk waktu yang lebih lama sembari membangun kapasitas energi batu-terbarukan untuk menggantikan gas alam,” jelas Samantra Dart. Global Co-Head of Commodities Research di Goldman Sachs Group Inc.

Analisis Teknikal

Jadi bagaimana perkiraan harga batu bara untuk pekan ini? Apakah bnisa naik lagi atau justru kembali terkoreksi?

Secara teknikal dengan perspektif mingguan (weekly time frame), batu bara masih mantap di zona bullish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 83.

RSI di atas 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bullish. Namun kalau sudah di atas 70, maka artinya tergolong jenuh beli (oversold).

Sinyal oversold terkonfirmasi dengan indikator Stochastic RSI 14 hari yang sudah menyentuh 100. Paling tinggi, rasanya memang sudah jenuh beli.

Untuk perdagangan minggu ini, harga batu bara sepertinya berisiko turun. Cermati pivot point di US$ 134/tron.

Dari situ, harga batu bara bisa saja mengetes support US$ 131/ton yang menjadi Moving Average (MA) 5. Target berikutnya ada di rentang US$ 126-122/ton.

Sedangkan kalau bisa naik, maka harga komoditas ini berpotensi menguji resisten US$ 145/ton. Target paling optimistis atau resisten terjauh adalah US$ 155/ton.

(aji)

No more pages