Di pasar valuta Asia, kondisi tersebut terkonfirmasi dengan pergerakan mata uang kawasan yang cenderung melemah. Tekanan paling dalam terjadi pada ringgit Malaysia 0,72%, lalu baht Thailand 0,43%, kemudian disusul oleh won Korea Selatan tergerus 0,3% dan peso Filipina 0,21%.
Sementara rupiah memang masih mencatatkan penguatan tipis 0,04%, dan berada di zona hijau bersama yen Jepang dan dolar Hong Kong. Namun rasanya penguatan ini sepertinya merupakan bentuk ketahanan jangka pendek, mengingat operasi stabilisasi rupiah yang terus diupayakan oleh Bank Indonesia selaku otoritas moneter, ketimbang perubahan perubahan yang bersifat fundamental.
Ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga minyak yang terjadi memang tidak sepenuhnya terdistribusi secara merata pada masing-masing negara di Asia, tapi sepertinya sudah cukup menekan sentimen kawasan. Negara yang memiliki tingkat sensitivitas tinggi terhadap perubahan harga minyak dan arus modal asing, cenderung mengalami tekanan lebih dalam.
Melihat kondisi rupiah yang meski menyisakan penguatan moderat saja, sepertinya sedikit menunjukkan paling tidak langkah yang diambil oleh otoritas moneter seperti menjaga pasokan dolar AS di pasar serta menggunakan instrumen seperti SRBI cukup menahan gejolak, setidaknya dalam jangka pendek.
Namun, kestabilan ini sepertinya belum tentu bertahan lebih lama, karena sangat bergantung pada kondisi global.
Premi Risiko Naik
Di sisi lain, indikator risiko kredit yang tercermin dalam pergerakan Credit Default Swap (CDS), yang sering disebut sebagai 'asuransi', menunjukkan bahwa posisi Indonesia relatif tertinggal dibanding negara peers di kawasan.
Melansir data Bloomberg, CDS Indonesia tenor 5 tahun mengalami kenaikan 2,4 basis poin menjadi 98,9 pada sore ini, menempatkan Indonesia pada kelompok negara dengan kinerja buruk pada periode ini. Kenaikan ini mengindikasikan bagwa pasar melihat risiko Indonesia sedikit meningkat, atau setidaknya tidak membaik secepat negara lain.
Sama halnya dengan Filipina yang telah menyatakan darurat energi, dengan kenaikan CDS sekitar 1,31 basis poin ke 88,9, menandakan tingginya kekhawatiran pasar terhadap risiko negara itu.
Sebagai perbandingan lain, Malaysia justru mencatat perbaikan, dengan CDS turun tipis ke kisaran 47,6 mencerminkan persepsi risiko yang relatif lebih rendah dan stabil di mata investor.
Bagi pasar domestik, kenaikan CDS ini jadi gambaran bahwa meski di permukaan rupiah terlihat relatif stabil, tetapi sepertinya pasar masih melabel premi risiko lebih tinggi bagi aset berdenominasi rupiah dibandingkan beberapa negara peers di kawasan.
(dsp/aji)




























