Logo Bloomberg Technoz

Faktor eksternal masih menjadi sumber utama gejolak. Lonjakan harga minyak di atas US$100 per barel berpotensi memperlebar defisit perdagangan energi Indonesia, mengingat posisi Indonesia sebagai net importir minyak.

Kenaikan ini pada akhirnya meningkatkan kebutuhan dolar AS, yang secara alami memberi tekanan tambahan pada rupiah. Pada saat yang sama, penguatan indeks dolar AS turut mempersempit ruang bagi mata uang emerging markets untuk menguat.

Dari dalam negeri, perhatian investor juga masih tertuju pada kondisi fiskal. Pelebaran defisit anggaran, peningkatan belanja pemerintah, serta kekhawatiran terhadap disiplin fiskal menjadi faktor yang menahan minat investor asing, terutama di pasar obligasi. Dalam konteks ini, stabilitas rupiah tidak hanya soal intervensi jangka pendek, tetapi juga terkait erat dengan kredibilitas kebijakan fiskal dalam jangka menengah.

Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat langkah stabilisasi di pasar keuangan. "Guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, BI meningkatkan intensitas intervensi baik di pasar non-deliverable forward (NDF) di luar negeri maupun melalui transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar dalam negeri," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam keterangan pers setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG), Selasa (17/3/2026). 

Selain itu, bank sentral juga mengoptimalkan berbagai instrumen moneter untuk mendorong masuknya aliran modal asing guna menopang stabilitas rupiah.

Ke depan, Bank Indonesia juga menekankan pentingnya memperkuat kinerja neraca pembayaran sebagai fondasi stabilitas nilai tukar. Otoritas moneter meyakini rupiah akan tetap stabil dengan dukungan komitmen BI dalam menjaga stabilitas pasar, tingkat imbal hasil domestik yang masih menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai tetap solid.

BI juga terus mendorong peningkatan penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Settlement (LCS), bekerjasama dengan Malaysia, Thailand, Jepang, dan China, dan akan membuka kerjasama berikutnya dengan Singapura dan Filipina. Program ini merupakan upaya mengurangi ketergantungan pada dolar AS melalui kerja sama transaksi mata uang lokal juga mulai menunjukkan hasil. 

(dsp/aji)

No more pages