Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Undervalued di Atas Kertas, Wajarnya Rp15.446/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
17 March 2026 14:24

Ilustrasi Rupiah terhadap Dolar AS (Diolah)
Ilustrasi Rupiah terhadap Dolar AS (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Sekitar sebulan lalu setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) Februari, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan bahwa rupiah berada dalam kondisi undervalued dan belum sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi domestik. 

Sejak awal tahun hingga siang ini, Selasa (17/3/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung bergerak defensif dengan pelemahan sekitar 1,68%. Sementara sejak RDG bulan lalu, pelemahannya tercatat 0,62%—masih relatif terbatas dibandingkan mata uang regional lainnya.

Meski begitu, rupiah beberapa kali mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS di pasar spot. Bahkan telah melampaui level tersebut di pasar offshore.

Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot selama satu bulan. (Bloomberg)

Di kawasan, kinerja rupiah sebenarnya tidak termasuk yang terburuk. Pelemahannya masih relatif lebih ringan daripada sejumlah mata uang lain, seperti won Korea Selatan, baht Thailand, dan rupee India. Kinerja rupiah hanya lebih lemah dari peso Filipina, dolar Hong Kong dan Taiwan. 

Setelah pernyataan tersebut, tekanan terhadap rupiah justru makin berlanjut, dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik akibat serangan AS-Israel terhadap Iran dan menyebabkan kenaikan harga minyak global di atas US$100 per barel. Di tengah dinamika eksternal itu, pernyataan otoritas moneter yang sempat menilai rupiah masih berada di bawah nilai wajarnya kini diuji oleh tekanan pasar yang terus berlanjut.