Arus keluar modal asing ini juga didorong oleh ketidakpastian geopolitik yang terjadi dan risiko adanya inflasi impor akibat kenaikan harga minyak mentah dunia.
Kondisi Domestik
Sebelumnya, analis memperkirakan BI akan memangkas suku bunga sebanyak 2 hingga 3 kali dengan total pemangkasan sebanyak 50 hingga 75 basis poin (bps). Namun, di tengah kondisi geopolitik saat ini terlebih dengan adanya lonjakan harga minyak sepertinya ruang pelonggaran BI menjadi semakin terbatas.
Berdasarkan data ekonomi yang dirilis beberapa waktu terakhir kondisi ekonomi relatif baik namum membutuhkan stimulus pelonggaran sebab menunjukkan gejala perlambatan konsumsi rumah tangga. Data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dirilis BI awal pekan ini menunjukkan bahwa rumah tangga Indonesia masih memandang ekonomi dengan cukup optimistis, namun tetap berhati-hati di tengah ketidakpastian yang terjadi.
Pada Februari IKK tercatat sebesar 125,2 masih berada di atas ambang optimistis yaitu 100, meski sedikit menurun dari capaian indeks pada Januari sebesar 127, memperlihatkan perilaku keuangan rumah tangga yang mulai menunjukkan kehati-hatian.
Begitu juga dengan ekspektasi terhadap masa depan mulai sedikit melemah. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) enam bulan mendatang dibandingkan dengan kondisi saat ini, justru tercatat turun menjadi 134,4 dari 138,8 pada Januari.
Di sisi lain, inflasi juga tercatat masih belum jinak. Pada Februari inflasi tercatat 4,76%, dan diproyeksikan masih akan tinggi pada Maret ini lantaran tingginya konsumsi efek musiman Ramadan dan Idul Fitri. Begitu juga dengan adanya lonjakan harga minyak dunia yang berpotensi menambah beban inflasi dalam bentuk imported inflation bagi harga-harga komoditas yang berbasis impor.
Selain itu, inflasi inti sudah menunjukkan tren meningkat dan pada Februari bahkan telah melampaui titik tengah target inflasi untuk CPI utama. "Karena itu, kami tidak memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga lagi sebelum keputusan MSCI pada Mei mendatang," kata Tamara Henderson, Ekonom Bloomberg Economics dalam catatannya, Jumat (13/3/2026).
Harga Minyak Melambung
Kenaikan harga minyak berpotensi menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Harga energi yang lebih tinggi ini juga berpotensi memperlebar defisit perdagangan minyak dan meningkatkan kebutuhan impor energi, yang pada akhirnya meningkatkan permintaan terhadap dolar AS. Kondisi ini dapat membuat rupiah bergerak lebih volatil, terutama jika sentimen global masih dibayangi ketegangan geopolitik.
Jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut dalam jangka waktu yang lama, dan harga minyak bertahan di level tinggi, tekanan terhadap pasar domestik berpotensi semakin besar. Bukan hanya karena dampaknya terhadap inflasi dan subsidi energi, tetapi juga karena meningkatnya kebutuhan stabilisasi nilai tukar.
Dalam konteks ini, ruang pelonggaran moneter berpotensi menjadi semakin terbatas. Kenaikan harga minyak yang memicu tekanan terhadap inflasi, neraca perdagangan, serta meningkatkan permintaan valuta asing untuk impor energi dapat memperbesar risiko terjadap stabilitas nilai tukar.
Dengan kondisi yang ada, BI kemungkinan akan semakin berhati-hati untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga di tahun ini.
(dsp/aji)



























