Saat ini, situasi geopolitik global yang belum sepenuhnya stabil ikut menambah tekanan terhadap rupiah. Kenaikan minyak mentah dunia ke atas US$90 per barel ikut menambah sentimen risk-off terhadap aset keuangan di pasar domestik. Hari ini, harga minyak kembali berada di US$98,36 per barel naik 6,97%.
Meski begitu, kondisi ini tidak berarti rupiah akan melemah tanpa kendali. BI memiliki cadangan devisa yang cukup serta instrumen untuk menjaga stabilitas rupiah. Selain itu, pelemahan dolar AS dalam beberapa kali dapat mengurangi beban intervensi yang dilakukan BI.
"Secara keseluruhan, berbagai faktor yang bekerja saat ini lebih mungkin memperhalus jalur depresiasi rupiah ketimbang menghasilkan pembalikan tren yang berkelanjutan. Rupiah yang lebih kuat pada akhirnya sangat bergantung pada perbaikan disiplin fiskal atau pelemahan dolar AS yang berlangsung secara berkelanjutan," sebut laporan Bloomberg Intelligence yang disusun oleh analis Chunyu Zhang dan Stephen Chiu.
Di sisi lain, Indonesia juga mulai mengurangi ketergantungannya terhadap dolar AS melalui program Local Currency Settlement (LCS) sejak 2018. Kesempatan yang sama telah diadopsi oleh Malaysia, Thailand, Jepang, dan China, dengan kemungkinan kerjasama berikutnya bersama Singapura dan Filipina.
BI melaporkan nilai transaksi LCS mencapai US$11,7 miliar per semester I-2025, lebih dari dua kali lipat dibandingkan US$4,7 miliar pada semester I-2-24.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut hingga Juli 2025, transaksi menggunakan mata uang lokal Indonesia mencapai sekitar US$6 miliar dengan China, US$5 miliar dengan Jepang, US$2 miliar dengan Malaysia, dan US$0,6 miliar dengan Thailand. Transaksi dengan China menyumbang setidaknya 45% dari total transaksi LCS Indonesia dalam tujuh bulan pertama 2025.
Transaksi antara negara di kawasan Asia menggunakan mata uang masing-masing tanpa harus melalui dolar AS dapat membuat permintaan terhadap dolar mengecil dan terkendali. Meski belum bisa mengubah arah pergerakan rupiah dalam waktu singkat dan secara signifikan, langkah ini setidaknya jadi fondasi penting untuk memperkuat posisi rupiah dan mata uang Asia di masa depan.
Di tengah berbagai sentimen tersebut, pelaku pasar juga mencermati arah pergerakan rupiah dari sisi teknikal untuk melihat potensi pergerakan jangka pendek di pasar.
Analisa Teknikal
Secara teknikal, rupiah berpotensi kembali melemah. Target pelemahan menuju level Rp16.885/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua akan tertahan di Rp16.900/US$.
Apabila kembali break kedua support tersebut, maka rupiah berpotensi melemah lebih lanjut dengan menuju level Rp16.950/US$ hingga Rp17.000/US$.
Namun jika rupiah menguat hari ini, maka resistance menarik dicermati ada pada level Rp16.840-16.800/US$.
(dsp/aji)






























